Makrifat dalam QS. Al-Nur Ayat 35: Kajian Tasawuf


Ringkas: QS. Al-Nūr [24]: 35 atau Ayat Cahaya menjadi salah satu ruang perdebatan penting dalam sejarah intelektual Islam. Dalam pembacaan tasawuf, ayat ini berkaitan dengan makrifat, penyingkapan batin, serta pengalaman spiritual untuk mendekati hakikat cahaya Ilahi.
Ketika membaca QS. Al-Nūr [24]: 35, kita tidak sekadar berhadapan dengan metafora atau kiasan bahasa yang indah. Ayat ini merupakan medan perdebatan yang ramai dalam sejarah intelektual Islam. Para filsuf, teolog, dan kaum mistikus berupaya mengurai makna sejati kata “cahaya”: apakah ia hanya analogi rasional, iluminasi batin, atau realitas ontologis yang hanya dapat disentuh melalui makrifat ketika logika manusia telah mencapai batasnya.
Ayat Cahaya: Antara Simbol dan Hakikat Transenden
Lafaz dalam QS. al-Nūr [24]: 35 berbunyi:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ…
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tak tembus, di dalamnya ada pelita…
Secara lahiriah, struktur bahasanya tampak intuitif dan sederhana. Namun, di tangan para penafsir, susunan kata tersebut berkembang menjadi samudra makna yang kedalamannya seakan tidak pernah selesai digali.
Para mufasir klasik seperti al-Ṭabarī dan al-Qurṭubī cenderung memahami kata nūr sebagai metafora bagi petunjuk dan keimanan yang Allah turunkan kepada hamba-Nya. Pendekatan ini menjaga batas pemahaman agar orang awam tidak terjebak dalam gambaran fisik mengenai wujud Tuhan. Bagi mereka, struktur perumpamaan dalam ayat tersebut berfungsi sebagai sarana navigasi moral dan teologis agar kebenaran dapat dipahami secara jernih.
Sebaliknya, bagi kaum sufi, ayat ini merupakan gerbang utama menuju perjumpaan batiniah dengan Yang Ilahi, yakni realitas yang tidak mungkin dipenjarakan oleh perbendaharaan kata indrawi. Dari perbedaan sudut pandang ini lahir pertanyaan mendasar yang terus diuji sepanjang sejarah tafsir: apakah Tuhan benar-benar “cahaya” dalam arti konkret, ataukah kata itu hanyalah jembatan makna yang menuntut penyingkapan batin (kashf) melalui pencapaian makrifat?
Makrifat dalam Tasawuf: Menembus Tirai Simbol
Dalam tradisi tasawuf, makrifat bukanlah pengetahuan teoretis yang diperoleh dengan menumpuk wacana atau mengasah silogisme logika. Makrifat adalah pengalaman rasa (żawq) dan perjumpaan langsung dengan kehadiran Tuhan, yaitu kesadaran spiritual yang tumbuh ketika tirai batin perlahan tersingkap dari hiruk-pikuk keduniaan (Al-Ta‘arruf li-Madhhab Ahl al-Taṣawwuf, hlm. 62).
Dalam karya seminalnya, Mishkāt al-Anwār, al-Ghazālī menegaskan bahwa hakikat cahaya sesungguhnya hanya milik Allah. Adapun cahaya-cahaya lain yang ada di alam semesta hanyalah pantulan yang bersifat majāzī (metaforis). Untuk mencapai makrifat tentang Żāt-Nya, manusia membutuhkan pancaran sinar ilahi yang hanya dapat ditangkap oleh mereka yang memiliki mata hati (baṣīrah) yang tajam (Mishkāt al-Anwār, hlm. 45).
Baca juga: Menyelami Samudra Al-Qur’an: Hermeneutika Sufi ala Sahl at-Tustari
Al-Ghazālī menguraikan pencarian makna ini dalam tiga jenjang batin. Kelompok al-‘awāmm (awam) mencukupkan diri pada makna harfiah teks. Kelompok al-khawāṣṣ (kalangan khusus) mulai mampu menangkap kedalaman simbolik di balik susunan ayat. Sementara itu, kelompok khawāṣṣ al-khawāṣṣ (kalangan teratas) tidak lagi hanya menafsirkan simbol, melainkan mengalami secara personal pancaran cahaya tersebut.
Di sinilah letak paradoks makrifat: makrifat merupakan pengetahuan yang tidak dapat dipindahkan melalui mimbar kuliah, tetapi harus dirasakan dan dihidupi oleh setiap pencarinya.
Persinggungan Filsafat dan Tasawuf: Antara Ibn Sīnā dan al-Ghazālī
Hal yang menarik dalam diskursus Ayat Cahaya adalah adanya titik temu antara al-Ghazālī dan Ibn Sīnā. Walaupun keduanya berdiri dalam pilar tradisi yang tampak berseberangan, al-Ghazālī di ruang tasawuf dan Ibn Sīnā di panggung filsafat peripatetik, pembacaan mereka atas ayat ini memiliki benang merah yang kuat (Inspired Knowledge in Islamic Thought, hlm. 94).
Melalui Risālah fī Ithbāt al-Nubuwwāt, Ibn Sīnā membedah Ayat Cahaya dengan analisis simbolisme filosofis. Ia memetakan instrumen cahaya sebagai struktur jiwa dan tingkatan akal manusia. Sementara itu, al-Ghazālī dalam Mishkāt al-Anwār membacanya dalam nuansa sufistik yang kuat. Walaupun menggunakan pendekatan yang berbeda, keduanya sama-sama menyimpulkan bahwa ayat ini membahas realitas metafisik yang tidak dapat diterima begitu saja secara tekstual (Risālah fī Ithbāt al-Nubuwwāt, hlm. 42).
Baca juga: Warid al-Haq: Rasul Isyari ala Kiai Soleh Darat
Al-Ghazālī sendiri tidak ragu mengakui bahwa upayanya menafsirkan ayat ini merupakan bentuk sintesis antara aspek eksoteris (lahir) dan esoteris (batin). Ia menggabungkan kepekaan rasa sufistik dengan ketajaman analisis rasional (Creation and the Cosmic System: Al-Ghazâlî & Avicenna, hlm. 33). Pertemuan ini menunjukkan bahwa pencarian makrifat pada akhirnya meleburkan batas yang kaku antara olah nalar filsafat dan penyingkapan batiniah tasawuf.
Makrifat sebagai Perjalanan yang Tak Pernah Selesai
Perdebatan mengenai problem makrifat dalam QS. Al-Nūr [24]: 35 tampaknya tidak akan menemukan satu titik akhir yang tunggal. Dalam tradisi tasawuf, ayat ini menjadi undangan terbuka bagi setiap jiwa untuk terus menyingkap lapisan-lapisan simbol demi mendekati Hakikat Yang Maha Luas dan Tak Terbatas.
Pencarian batin tersebut pada akhirnya mengubah arah pertanyaan secara mendasar. Fokusnya tidak lagi pada perhitungan intelektual tentang “apa wujud konkret dari cahaya itu?”, tetapi bergeser kepada pertanyaan spiritual: “sejauh mana kita berani membiarkan cahaya itu membakar habis ego, prasangka, dan kepastian semu dalam diri kita?”
Di sinilah garis pembeda bagi pencari makna Al-Qur’an. Ada yang berhenti pada batas membaca dan menganalisis teks dari luar, sementara ada pula yang berani melangkah masuk serta membiarkan dirinya dilebur oleh pengalaman makrifat yang sesungguhnya. Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb.
Poin penting
- QS. Al-Nūr [24]: 35 dikenal sebagai Ayat Cahaya
- Nūr dipahami sebagai petunjuk dan keimanan
- Makrifat merupakan pengalaman rasa (żawq)
- Hakikat cahaya hanya milik Allah
- Tiga jenjang: al-‘awāmm, al-khawāṣṣ, khawāṣṣ al-khawāṣṣ
- Sintesis aspek lahir dan batin dalam tafsir al-Ghazālī
Sumber: Tafsir Al-Quran
Lihat juga
- Tafsir QS Al-Ahzab Ayat 33: Domestikasi Perempuan?
- Krisis Lingkungan dan Ekoteologi dalam Kisah Kaum Ṡamūd
- Bagaimana Menjadikan Anak Hafidz Al-Qur’an? Ini 4 Tipsnya
Sumber: Tafsir Al-Quran — https://tafsiralquran.id/mengurai-problem-makrifat-dalam-qs-al-nur-24-35-sebuah-pembacaan-tasawuf/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengurai-problem-makrifat-dalam-qs-al-nur-24-35-sebuah-pembacaan-tasawuf