KHGT, Hisab, dan Persaudaraan Muhammadiyah dan NU

Ringkas: Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) bukan hanya soal hitung-menghitung astronomi. Di baliknya ada isu fikih, cara bermusyawarah, dan harapan besar agar umat Islam tetap rukun meski berbeda pandangan.
Pembahasan tentang KHGT sering disederhanakan menjadi persoalan teknis: hisab, rukyat, visibilitas hilal, dan penetapan awal bulan Hijriah. Padahal, sebagaimana terlihat dari perbincangan yang mengaitkan gagasan ini dengan sejarah tafsir dan semangat persaudaraan ormas Islam, persoalan kalender juga menyentuh dimensi sosial-keagamaan yang lebih luas. Di sinilah pentingnya memahami KHGT dengan kepala dingin: bukan sekadar soal “siapa paling benar”, tetapi bagaimana umat Islam belajar mengelola perbedaan secara beradab.
KHGT bukan semata urusan astronomi
Kalender Hijriah Global Tunggal dimaksudkan agar umat Islam memiliki acuan waktu yang lebih seragam dalam penetapan awal bulan Hijriah. Tujuannya jelas: memudahkan koordinasi ibadah, memperkuat kesatuan kalender, dan mengurangi kebingungan di tengah masyarakat. Namun, penerapan kalender global tidak bisa dilepaskan dari perbedaan metode yang sudah lama hidup di tengah umat, terutama dalam penentuan awal bulan yang berkaitan dengan hisab dan rukyat.
Karena itu, KHGT tidak cukup dibahas dari sisi perhitungan astronomi saja. Ada pertanyaan fikih yang perlu dijawab: bagaimana batas wilayah berlakunya hilal, bagaimana kesaksian rukyat dipahami, dan bagaimana otoritas penetapan awal bulan dijalankan. Ada pula pertanyaan sosial: bagaimana menyampaikan gagasan baru tanpa memicu curiga, dan bagaimana menerima bahwa perbedaan ijtihad adalah bagian dari tradisi keilmuan Islam.
Persaudaraan umat lebih penting daripada menang debat
Dalam suasana seperti ini, tema persaudaraan Muhammadiyah dan NU menjadi sangat relevan. Dua organisasi besar ini sama-sama memiliki kontribusi besar bagi Islam di Indonesia. Keduanya berangkat dari semangat dakwah, pendidikan, dan kemaslahatan umat, meski sering berbeda dalam pendekatan fikih dan manajemen keagamaan. Perbedaan tersebut seharusnya dipahami sebagai khazanah, bukan alasan untuk saling merendahkan.
Kalau KHGT dibicarakan dengan semangat persaudaraan, maka yang muncul adalah dialog, bukan saling serang. Umat bisa belajar bahwa perbedaan ijtihad tidak otomatis memutus ukhuwah. Justru di situlah akhlak dalam beragama diuji: apakah kita mampu menahan emosi, menghargai ulama, dan menerima bahwa satu masalah bisa memiliki lebih dari satu pandangan yang sama-sama punya landasan.
Dalam sejarah pemikiran Islam, perbedaan pendapat bukan hal baru. Para ulama pun kerap berbeda dalam cabang-cabang masalah, tetapi tetap menjaga adab ilmu. Semangat seperti inilah yang penting diwariskan dalam diskusi KHGT: kuat dalam argumentasi, namun lembut dalam penyampaian. Tegas dalam prinsip, tetapi tidak kasar terhadap sesama Muslim.
Pelajaran dari cara memahami perbedaan
Artikel yang mengaitkan dari Tafsir al-Manar ke KHGT menunjukkan bahwa pembahasan kalender tidak berhenti pada satu dimensi. Ada sejarah pemikiran, ada tradisi ijtihad, ada dinamika organisasi Islam, dan ada kebutuhan umat akan kepastian waktu ibadah. Ini semua menuntut kedewasaan intelektual. Umat tidak cukup hanya bertanya, “mana yang paling praktis?”, tetapi juga perlu bertanya, “bagaimana caranya agar kemaslahatan tercapai tanpa mengorbankan persaudaraan?”
Di sinilah nilai penting dari dialog. Dialog yang sehat membantu setiap pihak memahami alasan di balik pendapat masing-masing. Ketika Muhammadiyah, NU, dan unsur umat lain berdiskusi dengan adab, maka perbedaan tidak lagi menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, perbedaan menjadi ruang untuk saling melengkapi. Yang satu menguatkan disiplin ilmiah, yang lain mengingatkan pentingnya penerimaan sosial dan kebijaksanaan kolektif.
Untuk masyarakat awam, sikap terbaik adalah tidak tergesa-gesa menyalahkan salah satu pihak. Yang lebih penting adalah memahami bahwa penetapan awal bulan Hijriah memang perkara yang kompleks. Ada unsur ilmu falak, fiqh, otoritas, dan kemaslahatan publik. Karena itu, mengikuti keputusan lembaga atau ulama yang dipercaya dalam lingkungan masing-masing bisa menjadi bentuk ketaatan yang tertib, selama tetap disertai penghormatan kepada saudara Muslim yang berbeda pandangan.
KHGT dan harapan menuju umat yang lebih satu
Jika dikelola dengan baik, KHGT justru bisa menjadi jembatan menuju persatuan umat yang lebih nyata. Bukan persatuan yang memaksa semua orang berpikir sama, tetapi persatuan yang dibangun di atas saling mengerti. Umat Islam di Indonesia membutuhkan contoh bahwa perbedaan fikih tidak harus berujung pada polarisasi. Justru ketika masalah teknis seperti kalender dibicarakan dengan tenang, kita sedang belajar membangun peradaban yang matang.
Pada akhirnya, pembicaraan tentang KHGT mengingatkan kita bahwa syariat tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mengajarkan cara hidup bersama. Ada adab saat berbeda pendapat, ada tanggung jawab saat menyampaikan pandangan, dan ada kewajiban menjaga hati saudara sesama Muslim. Bila semangat ini dijaga, maka diskusi tentang kalender Hijriah akan menjadi sarana memperkuat ukhuwah, bukan malah membuka luka lama.
Karena itu, umat perlu memandang KHGT secara utuh: sebagai ikhtiar ilmiah, bahan musyawarah fikih, dan peluang mempererat persaudaraan. Selama niatnya untuk maslahat, cara membicarakannya harus tetap santun. Itulah pelajaran penting yang layak dijaga dalam setiap perbedaan di tubuh umat Islam.
Poin penting
- KHGT bukan sekadar teknis astronomi
- Ada unsur fikih dan kemaslahatan umat
- Perbedaan ijtihad tidak memutus ukhuwah
- Dialog lebih baik daripada saling menyalahkan
- Muhammadiyah dan NU sama-sama punya kontribusi
- Adab dalam beda pendapat harus dijaga
FAQ
Apa itu KHGT?
KHGT adalah gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal yang bertujuan menyatukan acuan awal bulan Hijriah di kalangan umat Islam.
Apakah KHGT hanya soal hisab dan rukyat?
Tidak. Selain astronomi, KHGT juga terkait fikih, komunikasi umat, dan cara menyikapi perbedaan pandangan.
Apa sikap terbaik saat berbeda dalam masalah kalender?
Menghormati ulama, menjaga adab, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan memecah persaudaraan.
Sumber: IBTimes.ID — https://ibtimes.id/dari-tafsir-al-manar-ke-khgt-persaudaraan-muhammadiyah-dan-nu/