TopikKajian Islam terpercaya, ramah, dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Islamkamil — Beragama dengan Cerdas dan Santun
Masukkan kode iklan bagian atas di sini.
Hero otomatis menampilkan tiga posting terbaru.
Daftar berita terkini diambil otomatis dari feed Blogger.

Bagaimana Menjadikan Anak Hafidz Al-Qur’an? Ini 4 Tipsnya

Bagaimana Menjadikan Anak Hafidz Al-Qur’an? Ini 4 Tipsnya

Ringkas: Banyak orang tua berharap anaknya menjadi hafidz Al-Qur’an, tetapi harapan itu tidak cukup jika hanya diserahkan kepada sekolah. Artikel ini menekankan empat langkah utama yang perlu dilakukan orang tua agar cita-cita tersebut bisa terwujud.

Pertumbuhan Sekolah Islam Terpadu terus meningkat pesat dari tahun ke tahun. Namun, banyak orang tua yang memasukkan anak ke sekolah Islam bukan semata karena lembaganya, melainkan karena program tahfidz dan pembelajaran Al-Qur’an yang ada di dalamnya. Karena itu, penting untuk memahami bahwa menjadikan anak hafidz Al-Qur’an tidak bisa hanya mengandalkan sekolah, tetapi juga membutuhkan peran aktif orang tua di rumah.

Dalam pembahasan ini, ada empat tips utama yang perlu dilakukan orang tua yang ingin anaknya menjadi hafidz Al-Qur’an sebagaimana yang dahulu dilakukan oleh para salafus saleh terhadap anak-anak mereka.

Bagaimana Menjadikan Anak Hafidz Al-Qur’an? Ini 4 Tipsnya

Jadilah teladan pertama bagi anak-anak

Ini adalah poin paling penting, tetapi sering dilalaikan oleh banyak orang tua. Sebagian orang tua beranggapan bahwa setelah anak dimasukkan ke sekolah Islam terbaik dengan program tahfidz yang bagus, maka otomatis anak akan baik dalam hafalannya. Kenyataannya, banyak yang kemudian kecewa karena harapan itu tidak terwujud hanya dengan mengandalkan sekolah.

Karena itu, orang tua harus lebih dulu menjadi teladan di rumah. Jika ingin anak lebih mencintai Al-Qur’an daripada gadget, maka ciptakan lingkungan yang mendukung dan tunjukkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak salaf mencintai Al-Qur’an bukan hanya karena diperintah, tetapi karena mereka melihat orang tua mereka hidup bersama Al-Qur’an setiap hari.

Sebagaimana wasiat Utbah bin Abi Sufyan kepada pengajar anaknya,

لِيَكُنْ أَوَّلَ إِصْلَاحِكَ لِبَنِيَّ إِصْلَاحُكَ لِنَفْسِكَ، فَإِنَّ عُيُونَهُمْ مَعْقُودَةٌ بِعَيْنِكَ، فَالْحَسَنُ عِنْدَهُمْ مَا صَنَعْتَ، وَالْقَبِيحُ عِنْدَهُمْ مَا تَرَكْتَ

“Hendaklah langkah pertama yang engkau lakukan dalam memperbaiki anak-anakku adalah memperbaiki dirimu sendiri. Sebab, mata mereka senantiasa tertuju pada matamu. Hal yang baik menurut mereka adalah apa yang engkau kerjakan, dan hal yang buruk menurut mereka adalah apa yang engkau tinggalkan.” [2]

Karena waktu anak-anak lebih banyak di rumah daripada di sekolah, maka yang paling sering mereka lihat adalah orang tua mereka sendiri. Dalam konteks tahfidz Al-Qur’an, muncul pertanyaan besar: bagaimana jika yang menginginkan anaknya menjadi hafidz Al-Qur’an justru orang tua yang belum mampu membaca Al-Qur’an? Dalam keadaan ini, orang tua wajib terlebih dahulu belajar. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surah At-Tahrim ayat 6.

Memilihkan pengajar dan lingkungan yang tepat

Untuk cita-cita besar ini, orang tua tidak boleh sembarangan memilih sekolah dengan alasan yang penting sekolah Islam. Al-Qur’an adalah panduan seorang muslim dalam membaca, memahami, dan mentadabburinya, sehingga tidak boleh dipelajari secara sembarangan.

Mengharapkan anak menjadi hafidz Al-Qur’an bukan hanya soal hafal, tetapi juga harus benar dan fasih, termasuk dalam lafadz, sifat huruf, dan makhraj huruf. Karena itu, memilih siapa yang mengajarkan anak dan bagaimana lingkungan belajarnya menjadi sangat penting.

Sebagaimana perkataan Ibnu Sirin, seorang tabi’in dan ahli hadis,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu (Al-Quran dan As-Sunah) ini adalah bagian dari agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [3]

Menanamkan akidah dan iman sebelum mulai menghafal

Sebelum mengajarkan Al-Qur’an kepada anak, mulailah dengan menanamkan akidah dan iman. Caranya dengan mengenalkan tauhid, keagungan Allah, dan kisah-kisah penuh hikmah agar hati anak terikat lebih dahulu sebelum lisannya menghafal.

Sebagaimana perkataan seorang tabi’in,

وَعَنْ حَمَّادِ بْنِ نَجِيحٍ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ جُنْدَبٍ، قَالَ: كُنَّا غِلْمَانًا حَزَاوِرَةً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا

Dan dari Hammad bin Najih, dari Abu ‘Imran al-Jauni, dari Jundub (bin Abdullah), ia berkata, “Dahulu, kami adalah anak-anak muda yang bugar (mendekati balig) bersama Rasulullah ﷺ. Kami mempelajari iman sebelum kami mempelajari Al-Quran. Setelah itu, kami mempelajari Al-Quran, sehingga bertambahlah iman kami dengannya (Al-Quran tersebut).” [4]

Bertahap dan tidak memaksakan anak

Para salaf memiliki prinsip bahwa pengajaran Al-Qur’an kepada anak dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan kejenuhan atau beban mental. Pendidikan Al-Qur’an bukan perkara memaksa, tetapi membimbing dengan kadar yang sesuai.

Dari Abu Al-‘Aliyah (Rufai’ bin Mihran), ia berkata,

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ خَمْسَ آيَاتٍ خَمْسَ آيَاتٍ، فَإِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يَنْزِلُ بِالْقُرْآنِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا خَمْسًا

“Pelajarilah Al-Quran lima ayat demi lima ayat, karena sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam dahulu turun membawa Al-Quran kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lima (ayat) lima (ayat).” [5]

Penutup

Kesimpulan dari empat poin di atas adalah orang tua hendaknya terlebih dahulu membekali diri dengan ilmu. Bagi calon ayah, persiapkan diri dan visi-misi dalam berumah tangga dengan menuntut ilmu. Bagi yang sudah terlanjur belum belajar, maka belum terlambat; pelajarilah agama ini secara berurutan dari dasar.

Mulailah dengan belajar membaca Al-Qur’an dengan baik sesuai kaidah tajwid, lalu pelajari akidah dan tauhid yang lurus. Dengan begitu, kita bisa membentuk generasi Islam yang terbaik dan mewujudkan cita-cita memiliki anak hafidz Al-Qur’an, saleh, dan salehah. Wallahu Ta’ala a’lam.

Poin penting

  • Orang tua harus jadi teladan
  • Lingkungan rumah sangat berpengaruh
  • Pilih pengajar dan sekolah yang tepat
  • Akidah dan iman didahulukan
  • Pengajaran Al-Qur’an dilakukan bertahap
  • Orang tua perlu belajar agama lebih dulu

Sumber: Muslimah.or.id. Artikel asli: https://muslimah.or.id/34615-bagaimana-menjadikan-anak-hafidz-al-quran.html

Lihat juga