Nikmat Waktu Luang dan Kesehatan yang Sering Melalaikan

Ringkas: Pengalaman air dan listrik mati seharian menjadi pengingat tentang lemahnya manusia, rasa malas, serta nikmat waktu luang dan kesehatan yang sering membuat manusia lalai.
Untuk pertama kalinya, air di kompleks tempat tinggal saya mati total selama satu hari penuh. Keran kamar mandi tidak mengeluarkan setetes air pun. Beberapa hari sebelumnya, gangguan air memang sempat terjadi, tetapi belum pernah berlangsung sepanjang hari seperti saat itu.
Saya mencoba memutar semua keran di rumah, berharap masih ada satu keran yang dialiri air. Keran saya putar sampai mentok. Hasilnya nihil. Yang terdengar hanya bunyi berdesis, seperti napas yang sudah kehabisan tenaga.
Biasanya air mengalir lancar. Beberapa pekan terakhir, air memang sempat mati pada jam-jam tertentu, lalu menyala kembali. Karena itu, saya mulai menganggapnya sebagai hal biasa. Namun, hari itu berbeda: air benar-benar mati total.
Air dan Listrik Mati, Manusia Sadar Tidak Berdaya
Di Makassar, kemarau yang berat memang berlangsung cukup lama. Rasanya hampir tiga bulan hujan tidak turun. Terik matahari kadang membuat siang terasa lebih panjang dari biasanya. Mungkin keadaan itulah yang menyebabkan air belakangan ini semakin sulit.
Keadaan tersebut diperburuk oleh isu yang beredar bahwa PLN akan melakukan pemadaman bergilir karena ada pemeliharaan. Ternyata benar, tepat ketika air mati, listrik pun ikut padam.
Sebagai perantau yang tinggal seorang diri, saya baru pertama kali mengalami keadaan semacam ini. Yang terasa saat itu bukan hanya kesepian, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: perasaan tidak berdaya. Dua kebutuhan paling penting dalam hidup sehari-hari, yaitu air dan listrik, ternyata sepenuhnya berada di luar kuasa saya.
Untungnya, hari itu bertepatan dengan hari libur. Saya tidak perlu pergi ke mana pun. Karena tidak bepergian, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan rebahan sambil menunggu air dan listrik kembali menyala.
Di sela-sela menunggu, entah sudah berapa kali saya menonton video pendek. Mulai dari sketsa komedi, potongan podcast, sampai ceramah singkat. Berbagai jenis tontonan itu seolah saya habiskan dalam satu kali rebahan. Bahkan ketika tulisan ini dibuat, saya baru menyadari betapa tidak berdayanya saya saat itu dalam melawan rasa malas.
Rasa Malas, Salat, dan Panggilan Perut
Jujur, ada rasa kesal ketika mengingat kejadian itu. Bukan hanya sebagai manusia dewasa, tetapi juga sebagai seorang muslim. Saya menghabiskan waktu dengan cara yang sangat tidak masuk akal: tidak melakukan apa pun selama sehari.
Di tengah kebosanan itu, hanya ada dua hal yang membuat saya bangkit dan bergerak, yaitu waktu salat dan panggilan perut.
Karena air mati, saya kembali rajin menginjakkan kaki ke masjid pada waktu zuhur dan asar. Pada dua waktu itu, rasa malas kadang lebih besar. Cuaca panas dan kantuk berat di siang hari sering menjadi alasan untuk merasa cukup mendirikan salat di rumah saja.
Yang lebih merepotkan adalah ketika ingin buang air di luar waktu salat. Jika bertepatan dengan waktu salat, saya bisa sekalian pergi ke masjid. Namun karena bukan waktu salat, mau tidak mau saya harus mencari sumber air. Perut saya mendesak untuk segera dikosongkan, sementara di rumah tidak tersisa setetes pun air.
Beruntung, masjid di kompleks kami menggunakan sumur bor sehingga tidak terpengaruh oleh jalur air milik kompleks. Maka, siang itu saya pun berangkat. Dengan langkah malas sambil menahan sembelit, saya terpaksa pergi ke masjid; bukan untuk salat, melainkan hanya untuk buang air.
Saya melewati jalan yang sama seperti ketika mendengar azan. Saya menuju rumah ibadah yang sama. Saya memakai kamar mandi dengan keran yang sama. Bedanya, kali ini yang menggerakkan saya bukan panggilan Tuhan, melainkan desakan perut. Rupanya, saya lebih patuh kepada perut sendiri daripada kepada azan.
Teguran Datang dari Arah yang Tidak Disangka
Setelah selesai, saya langsung kembali ke rumah. Seperti manusia urban pada umumnya, saya berjalan sambil menunduk menatap layar. Saya membuka media sosial tanpa tujuan yang jelas. Di titik itulah saya tersadar: bisa jadi teguran dari Tuhan datang melalui cara-cara yang tidak terduga.
Ketika membuka media sosial, sebuah potongan video melintas di lini masa. Isinya tentang kondisi warga di NTT yang terdampak bencana. Mereka mengungsi dalam keadaan kesulitan air dan listrik. Keadaan itu sama seperti yang saya alami saat itu. Bedanya, mereka tidak punya rumah untuk pulang, tidak punya masjid dengan sumur bor beberapa puluh langkah dari pintu, dan tidak punya kemewahan untuk rebahan seharian sambil mengeluh.
Pada momen itu, saya merasa seperti terpukul. Baru sedikit mendapat cobaan, keluhan saya sudah begitu banyak.
Yang paling menohok, teguran itu justru datang melalui benda yang sepanjang hari menenggelamkan saya: layar yang sama, jempol yang sama. Barangkali memang demikian cara Tuhan menegur manusia, melalui arah yang paling tidak disangka-sangka.
Dua Nikmat yang Sering Membuat Manusia Merugi
Ketika tulisan ini dibuat, saya benar-benar menyadari betapa tidak berdayanya saya pada hari itu. Bukan hanya karena air dan listrik mati. Dua hal itu memang berada di luar kendali siapa pun. Yang lebih memalukan adalah ketidakberdayaan terhadap diri sendiri: terhadap rasa malas, terhadap jempol yang tidak berhenti menggulir layar, dan terhadap godaan menunda salat sampai tubuh sendiri memaksa keluar rumah.
Padahal, empat belas abad silam, Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang kerap membuat manusia merugi, yaitu kesehatan dan waktu luang. Ternyata, saya sendiri terjebak dan tidak berdaya dalam tipuan dunia itu.
Hari libur dengan tubuh yang sehat seharusnya bisa menjadi keuntungan. Namun, saya justru mengabaikannya begitu saja. Waktu yang saya kira sedang saya miliki ternyata habis tanpa benar-benar menghasilkan apa pun.
Akhirnya, keadaan itu membuat saya abai terhadap hal-hal yang seharusnya disyukuri. Mungkin itulah sebabnya manusia sering tidak bersyukur bukan karena kekurangan, melainkan karena terlalu merasa memegang kendali. Kita mengira hidup ini kita sendiri yang mengatur, sampai suatu hari air berhenti mengalir dan kesadaran itu muncul.
Rupanya, kita memang perlu kehilangan sedikit agar mengerti bahwa selama ini kita tidak benar-benar memiliki apa-apa. Air yang mengalir setiap hari bukanlah hak, melainkan titipan yang bisa ditarik kapan saja.
Saya menyadari hal itu melalui pengalaman ini. Sebagai penutup, barangkali pertanyaan yang lebih pantas diajukan bukan lagi kapan air mengalir atau kapan listrik kembali menyala, melainkan siapa yang selama ini mengizinkan air itu terus mengalir dan listrik tetap menyala.
Poin penting
- Air mati seharian
- Listrik ikut padam
- Rasa tidak berdaya
- Malas dan waktu luang
- Teguran lewat media sosial
- Nikmat kesehatan dan waktu luang
Sumber: https://ibtimes.id/yang-membuat-manusia-lalai/. Editor: Ikrima