TopikKajian Islam terpercaya, ramah, dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Islamkamil — Beragama dengan Cerdas dan Santun
Masukkan kode iklan bagian atas di sini.
Hero otomatis menampilkan tiga posting terbaru.
Daftar berita terkini diambil otomatis dari feed Blogger.

Mohammad Natsir, Teladan Moral dalam Politik Indonesia

Mohammad Natsir, Teladan Moral dalam Politik Indonesia

Ringkas: Mohammad Natsir dikenal sebagai tokoh politik Indonesia yang memadukan keteguhan prinsip, kecerdasan intelektual, kesederhanaan hidup, dan kepentingan bangsa. Melalui Mosi Integral 1950, ia berperan penting dalam mengembalikan Indonesia dari Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bangsa Indonesia saat ini tidak hanya menghadapi alarm krisis ekonomi, tetapi juga krisis moral di kalangan pejabat politik. Kebijakan yang ugal-ugalan dan tidak mengedepankan aspirasi masyarakat membuat rakyat seolah hanya dijadikan tukang coblos dalam ritual lima tahunan. Sementara itu, kemewahan gaya hidup kerap menjadi tujuan para pejabat.

Di tengah keadaan tersebut, sejarah menghadirkan keteladanan para founding fathers bangsa. Sikap, moral, dan keteladanan mereka sebagai aktor politik meninggalkan nilai luhur yang patut dicontoh oleh tokoh politik hari ini. Salah satu tokoh yang terus memancarkan mata air keteladanan adalah Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan.

Natsir memang telah lama wafat, tetapi jejak keteladanan politiknya tidak lekang oleh waktu. Bagi generasi saat ini, menengok kembali perjalanan hidupnya dapat menjadi pelapang dahaga di tengah arah bangsa yang terasa kabur akibat degradasi moral para pejabat negara.

Awal Mengenal Gerakan Politik Nasional

Setelah menamatkan pendidikan menengah pertama di MULO Padang, Natsir hijrah ke bumi Priangan untuk melanjutkan studi di AMS Bandung. Di Kota Kembang inilah ia mulai berkenalan dengan dunia gerakan politik nasional. Natsir sering menghadiri forum pidato Bung Karno. Ia cukup terkesima dengan gaya pidato Bung Karno, tetapi tidak dengan isi pidatonya.

Suatu waktu, Natsir diajak sahabat karibnya di AMS, Fakhrudin Al-Khairi, mengunjungi Kampung Keling yang menjadi tempat tinggal mayoritas keturunan India di Bandung. Dari peristiwa itu, Natsir bertemu A. Hassan Bandung, seorang ulama keturunan India asal Singapura. Kepada Hassanlah Natsir menimba ilmu agama, belajar menulis, dan berdiskusi.

Pada rentang 1920 hingga 1930-an, gerakan politik nasional bangkit untuk melawan politik kolonial, mulai dari gerakan nasionalis, Islamis, hingga komunis. Sebagai bagian dari aktor gerakan Islam, Natsir sangat aktif menulis di berbagai majalah. Bersama gurunya, A. Hassan, ia kemudian mendirikan majalah Pembela Islam.

Natsir juga kerap beradu pikiran dengan kelompok nasionalis yang, menurut pandangannya, mendeskreditkan Islam. Ia selalu membantah gagasan negara nasionalis sekuler dari Bung Karno yang banyak mengambil inspirasi dari Mustafa Kemal Ataturk. Bahkan, Dr. Soetomo pernah menyatakan, “pergi ke Digul lebih mulia, dibandingkan dengan naik haji ke kota Makkah”.

Meski persoalan itu menyentuh keyakinan ideologis dan menimbulkan emosi, Natsir tidak menyimpan dendam kepada orang-orang yang berbeda pandangan dengannya, termasuk Bung Karno. Hubungan pribadi Natsir dan Bung Karno tidak dibatasi oleh pertengkaran ideologi. Ketika Bung Karno diasingkan di Ende pada tahun 1936, Natsir menjadi salah seorang yang paling sering berkirim surat dan saling berkabar dengannya. “Kalau mau jadi seorang mubalig, maka jadilah seperti Bung Natsir”, demikian isi salah satu surat Bung Karno kepada Natsir.

Pada Oktober 1945, umat Islam Indonesia dari berbagai organisasi mengadakan kongres kedua di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Pertemuan bersejarah itu melahirkan Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) sebagai wadah aspirasi politik Islam. Mohammad Natsir kemudian didaulat memimpin partai tersebut. Melalui Partai Masyumi, Natsir semakin terlibat dalam politik nasional.

Politisi Sederhana dan Bersahaja

McTurnan Kahin sejarahwan Universitas Cornell Amerika, menaruh kekaguman kepada Mohammad Natsir. Bagi George McTurnan Kahin, Natsir merupakan potret langka seorang pemimpin besar yang keteguhan prinsip dan kecemerlangan intelektualnya bersanding harmonis dengan kesederhanaan hidup yang sangat bersahaja. Kekaguman Kahin kepada Mohammad Natsir bukanlah sesuatu yang hiperbolis.

Ketika menjabat sebagai Menteri Penerangan, Natsir sering memakai jas yang ditambal. Pakaian yang digunakannya tidak pernah mengurangi kewibawaan dan integritasnya sebagai pejabat negara. Walaupun menjadi Menteri, Natsir tidak menggunakan fasilitas rumah dinas. Bersama keluarganya, ia memilih tinggal di rumah sahabatnya, Prawoto Mangkusasmito, di Tanah Abang, Jakarta.

Dalam wawancara langsung oleh Koran Tempo tahun 1989, Natsir mengatakan bahwa tugas sebagai Menteri Penerangan sangat berat di pundaknya. Namun, demi kepentingan bangsa, ia tetap menjalankannya dengan baik selama tidak berlawanan dengan prinsip yang dipegangnya. Natsir bukan tipikal politisi oportunis. Kaderisasi panjang yang dilaluinya membentuk dirinya menjadi politisi dengan banyak gagasan dan keteguhan prinsip yang kokoh.

Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB), Negara Kesatuan Republik Indonesia berubah bentuk menjadi Republik Indonesia Serikat. Natsir memandang RIS sebagai negara boneka Pemerintah Belanda dan tidak sesuai dengan cita-cita awal Proklamasi 17 Agustus. Karena itu, ia memutuskan berhenti dari jabatan Menteri Penerangan dan memilih menjadi anggota parlemen RIS dari fraksi partai yang dipimpinnya, Partai Masyumi.

Penggagas Mosi Integral 1950

Mohammad Natsir juga dikenal sebagai politisi dengan kemampuan diplomasi tingkat tinggi. Kemampuan tersebut mencapai puncaknya pada tahun 1950, ketika ia menjadi arsitek utama lahirnya Mosi Integral dari Fraksi Partai Masyumi.

Republik Indonesia Serikat (RIS), yang dibentuk sebagai produk Konferensi Meja Bundar, perlahan menunjukkan keretakan dan ketidakpuasan di berbagai daerah. Banyak wilayah bagian merasa dirugikan oleh sistem federal buatan Belanda. Gelombang aspirasi rakyat pun mengalir deras untuk menuntut kembalinya bentuk negara kesatuan. Dalam situasi penuh ketegangan politik dan ancaman disintegrasi bangsa yang nyata, Natsir mengambil peran historis yang sangat krusial demi menyelamatkan masa depan Republik Indonesia.

Sebagai ketua fraksi Partai Masyumi di parlemen RIS, Natsir merumuskan jalan tengah yang elegan dan konstitusional. Ia menyadari bahwa perdebatan ideologis berkepanjangan antara pendukung negara federal dan negara kesatuan hanya akan menghancurkan fondasi kemerdekaan yang telah susah payah diraih.

Melalui lobi politik yang gigih, santun, serta mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan, Natsir berhasil menyatukan berbagai faksi yang sebelumnya saling bersitegang di parlemen. Mosi Integral yang diajukannya pada tanggal 3 April 1950 bukan sekadar dokumen politik biasa, melainkan mahakarya diplomasi perdamaian yang merangkul perbedaan pandangan demi keutuhan ibu pertiwi. Pada tanggal 15 Agustus 1950, Bung Karno dalam pidato kenegaraannya secara resmi mengikrarkan lahir kembalinya Negara kesatuan Republik Indonesia.

Berkat ketulusan niat dan kepiawaian berpolitik yang bertiangkan moral luhur, mosi gagasan Natsir diterima secara luas oleh berbagai pihak, baik pemerintah RIS maupun negara-negara bagian RIS. Keputusan monumental ini secara efektif membubarkan Republik Indonesia Serikat tanpa pertumpahan darah dan mengembalikan Indonesia ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dicita-citakan sejak proklamasi kemerdekaan.

Keberhasilan Mosi Integral 1950 bukan hanya menyelamatkan integritas teritorial bangsa dari ancaman perpecahan kolonial, tetapi juga mengantarkan Natsir menjadi Perdana Menteri pertama setelah Indonesia kembali berada di bawah panji NKRI. Prestasi tersebut menegaskan bahwa integritas moral dan kecerdasan intelektual, apabila disatukan, dapat melahirkan kepemimpinan transformatif yang sejati.

Teladan Kenegarawanan Mohammad Natsir

Warisan kenegarawanan Mohammad Natsir melalui peristiwa Mosi Integral semestinya menjadi cerminan bagi pejabat politik masa kini yang kerap terjebak dalam pragmatisme kekuasaan. Di tengah carut-marut politik modern yang sering mengorbankan kepentingan rakyat demi syahwat politik sesaat, keteladanan Natsir mengajarkan bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana pengabdian yang suci kepada bangsa dan negara.

Poin penting

  • Mohammad Natsir mantan Perdana Menteri Indonesia
  • Pernah menjabat Menteri Penerangan
  • Belajar kepada A. Hassan Bandung
  • Memimpin Partai Masyumi
  • Menolak RIS sebagai negara boneka Pemerintah Belanda
  • Penggagas Mosi Integral 1950

Sumber: https://ibtimes.id/mohammad-natsir-oase-di-tengah-krisis-keteladanan-tokoh-politik/

Lihat juga