Dakwah Terang-Terangan dan Perundingan Quraisy

Ringkas: Para pembesar Quraisy beberapa kali mendatangi Abu Thalib agar menghentikan dakwah Rasulullah ﷺ. Namun Abu Thalib tetap melindungi beliau, sehingga Quraisy kemudian mulai menempuh gangguan langsung.
Pada fase awal dakwah Islam secara terang-terangan, tekanan kaum Quraisy kepada Rasulullah ﷺ semakin kuat. Setelah sebelumnya turun perintah dakwah secara terbuka, para pembesar kafir Quraisy memilih mendatangi Abu Thalib, paman Rasulullah ﷺ, agar ia menghentikan dakwah keponakannya.
Mengapa Quraisy mendatangi Abu Thalib?
Mungkin muncul pertanyaan: mengapa para pembesar Quraisy tidak langsung mencegah Rasulullah ﷺ? Mengapa mereka lebih dahulu menempuh jalur melalui Abu Thalib?
Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah sosok laki-laki yang mulia, berwibawa, dan memiliki kepribadian luar biasa. Keagungan pribadi beliau tertanam dalam jiwa kawan maupun lawan. Karena itu, orang seperti beliau tidak pantas diperlakukan kecuali dengan penghormatan dan pemuliaan. Tidak ada yang berani melakukan tindakan rendah dan tercela terhadap beliau, kecuali orang-orang hina dan bodoh.
Selain itu, Rasulullah ﷺ berada dalam perlindungan Abu Thalib. Abu Thalib adalah salah satu tokoh terkemuka di Makkah. Maka, sulit bagi siapa pun untuk berani melanggar jaminan perlindungannya dan menyerang orang yang berada di bawah naungannya.
Karena pertimbangan itu, para pembesar Quraisy memilih jalan perundingan dengan Abu Thalib sebagai tokoh yang melindungi Rasulullah ﷺ. Mereka melakukannya dengan penuh perhitungan dan kesungguhan, berharap Abu Thalib mau tunduk pada tuntutan mereka.
Perundingan pertama dan ancaman kedua kepada Abu Thalib
Sejumlah tokoh terkemuka Quraisy datang menemui Abu Thalib. Mereka berkata, “Wahai Abu Thalib, sesungguhnya keponakanmu telah mencela tuhan-tuhan kami, mencela agama kami, menganggap bodoh pikiran kami, dan menyatakan sesat nenek moyang kami. Engkau harus menghentikannya dari mengganggu kami, atau biarkanlah kami berhadapan langsung dengannya. Sebab engkau sendiri berbeda dengannya sebagaimana kami berbeda dengannya. Dengan demikian, kami akan menyelesaikan urusanmu dengannya.”
Mendengar ucapan para tokoh Quraisy itu, Abu Thalib menjawab dengan kata-kata yang lembut. Ia menolak permintaan mereka dengan cara yang baik. Setelah itu, para tokoh Quraisy pun pergi meninggalkan Abu Thalib.
Namun setelah pertemuan tersebut, Rasulullah ﷺ tetap melanjutkan dakwah Islam kepada manusia. Kaum Quraisy semakin tidak senang melihat dakwah beliau terus berjalan. Orang-orang kafir Quraisy tidak lagi mampu bersabar menghadapi keadaan itu. Mereka pun kembali menemui Abu Thalib dengan sikap yang lebih keras dari sebelumnya.
Pada pertemuan kedua, para pembesar Quraisy berkata kepada Abu Thalib, “Wahai Abu Thalib, sungguh engkau mempunyai usia, kemuliaan, dan kedudukan di tengah kami. Kami telah meminta kepadamu agar menghentikan keponakanmu, tetapi engkau tidak menghentikannya dari mengganggu kami. Demi Allah, kami tidak akan bersabar terus menghadapi pencelaan terhadap nenek moyang kami, penghinaan terhadap akal kami, dan pencelaan terhadap tuhan-tuhan kami. Engkau harus menghentikannya dari kami atau kami akan menghadapi dia dan engkau sekaligus dalam persoalan ini, hingga salah satu dari kedua pihak binasa.”
Ancaman yang keras itu sangat berat bagi Abu Thalib. Setelah mendengarnya, ia mengutus seseorang untuk memanggil Rasulullah ﷺ.
Keteguhan Rasulullah ﷺ dan pembelaan Abu Thalib
Rasulullah ﷺ kemudian datang menghadap Abu Thalib. Abu Thalib berkata, “Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah mendatangiku dan mengatakan…” Lalu ia menceritakan ucapan para pembesar Quraisy tersebut.
Abu Thalib kemudian berkata, “Maka kasihanilah aku dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membebankan kepadaku sesuatu yang tak sanggup aku pikul.”
Mendengar ucapan pamannya, Rasulullah ﷺ mengira Abu Thalib akan meninggalkan beliau dan mulai lemah dalam membelanya. Setelah itu Rasulullah ﷺ berkata,
يَا عَمِّ، وَاللهِ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي، عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ، حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ، مَا تَرَكْتُهُ
“Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”
Setelah mengucapkan hal itu, Rasulullah ﷺ tidak dapat menahan air mata. Beliau menangis, lalu berdiri untuk pergi.
Ketika Rasulullah ﷺ berpaling, Abu Thalib memanggil beliau kembali. Setelah Rasulullah ﷺ menghadap kepadanya, Abu Thalib berkata, “Pergilah, wahai keponakanku. Katakanlah apa yang engkau sukai. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun selama-lamanya.”
Kemudian Abu Thalib melantunkan syair. Di antara penggalan syair tersebut:
وَاللهِ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ بِجَمْعِهِمْ ** حَتَّى أُوَسَّدَ فِي التُّرَابِ دَفِينًا
Demi Allah, mereka takkan dapat menjangkaumu dengan seluruh kekuatan mereka, hingga aku dibaringkan sebagai mayat yang terkubur di dalam tanah.
فَاصْدَعْ بِأَمْرِكَ مَا عَلَيْكَ غَضَاضَةٌ ** وَابْشِرْ وَقَرَّ بِذَاكَ مِنْكَ عُيُونًا
Maka sampaikanlah urusanmu dengan terang-terangan, tidak ada kehinaan atasmu. Bergembiralah dan tenanglah karena hal itu.
Dengan sikap Abu Thalib tersebut, Rasulullah ﷺ terus melanjutkan aktivitas beliau menyeru manusia kepada agama Allah.
Perlu dicatat, redaksi dialog “matahari dan bulan” ini termasuk riwayat sirah yang masyhur, tetapi dinilai dha’if oleh Syekh al-Albani. Meski demikian, makna keteguhan Rasulullah ﷺ dalam mempertahankan dakwah tetap sejalan dengan keseluruhan perjalanan sirah beliau.
Tawaran menukar Rasulullah ﷺ dengan ‘Umarah bin al-Walid
Setelah mengetahui bahwa Abu Thalib tidak akan meninggalkan Rasulullah ﷺ, para pembesar Quraisy kembali mendatangi Abu Thalib. Kali ini mereka membawa seorang pemuda bernama ‘Umarah bin al-Walid bin al-Mughirah (عمارة بن الوليد بن المغيرة).
Mereka berkata, “Wahai Abu Thalib, pemuda ini adalah pemuda Quraisy yang paling kuat, paling tampan, dan paling baik. Ambillah dia. Engkau dapat memperoleh manfaat dari kecerdasan dan pertolongannya. Jadikanlah dia sebagai anakmu, maka dia menjadi milikmu. Sebagai gantinya, serahkan kepada kami keponakanmu yang telah menyelisihi agamamu dan agama nenek moyangmu, memecah persatuan kaummu, serta menganggap bodoh pikiran mereka. Kami akan membunuhnya. Seorang laki-laki ditukar dengan seorang laki-laki.”
Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, sungguh buruk sekali tawaran kalian kepadaku! Apakah kalian memberikan anak kalian kepadaku supaya aku memberi makan dan membesarkannya untuk kalian, sementara aku memberikan anakku kepada kalian agar kalian membunuhnya? Demi Allah, hal ini tidak akan pernah terjadi.”
al-Muth’im bin ‘Adi bin Naufal bin ‘Abdu Manaf (المطعم بن عدي بن نوفل بن عبد مناف) kemudian berkata kepada Abu Thalib, “Demi Allah, wahai Abu Thalib, kaummu telah berlaku adil kepadamu. Mereka telah bersungguh-sungguh mencari jalan keluar dari sesuatu yang engkau tidak sukai. Namun aku melihat engkau sama sekali tidak ingin menerima apa pun dari mereka.”
Abu Thalib lalu menjawab, “Demi Allah, kalian tidak berlaku adil kepadaku. Akan tetapi, tampaknya engkau telah bertekad untuk meninggalkanku dan membantu mereka melawanku. Maka lakukanlah apa yang menurutmu pantas.”
Berbagai perundingan itu gagal. Para pembesar kafir Quraisy tidak berhasil meyakinkan Abu Thalib agar mencegah Rasulullah ﷺ dan menghentikan dakwah beliau kepada Allah.
Akhirnya, Quraisy memutuskan untuk menempuh jalan yang sebelumnya mereka hindari karena khawatir terhadap akibat dan konsekuensinya. Jalan itu adalah melakukan serangan langsung terhadap pribadi Rasulullah ﷺ. Dari sinilah permusuhan Quraisy memasuki tahap baru, yaitu gangguan langsung terhadap Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin.
[Bersambung]
Poin penting
- Perlindungan Abu Thalib
- Perundingan pembesar Quraisy
- Ancaman kepada Abu Thalib
- Keteguhan dakwah Rasulullah ﷺ
- Tawaran ‘Umarah bin al-Walid
- Awal gangguan langsung Quraisy
Penulis: Fajar Rianto
Referensi:
ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri edisi revisi penulis 1415 H/1994 M.
Is’āf al-Akhyār bimā Isytahara wa lam Yashih min al-Ahādits wa al-Ātsār wa al-Qashash wa al-Asy’ār, karya Muhammad bin Abdullah Bāmūsā.
Sumber: Muslim.or.id
Lihat juga
- Resensi Buku RSI Jakarta 1971–2025 dan Sejarah Pelayanannya
- Ibnu ‘Arabi dan Ibnu ’Arabi: Perbedaan yang Perlu Dipahami
- Keteladanan Pak Kiai Dian Nafi’: Belajar sebelum Meneruskan
Sumber: Muslim.or.id — https://muslim.or.id/116020-awal-fase-dakwah-islam-secara-terang-terangan-2.html?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=awal-fase-dakwah-islam-secara-terang-terangan-2