Ibnu ‘Arabi dan Ibnu ’Arabi: Perbedaan yang Perlu Dipahami

Ringkas: Pembahasan tentang perbedaan antara Ibnul ‘Arabi dan Ibnu ‘Arabi membantu membedakan kebenaran dan kekeliruan dalam akidah. Para ulama menjelaskan kesalahan dan penyimpangan tanpa melihat sosoknya semata.
Pembahasan tentang perbedaan antara Ibnul ‘Arabi dan Ibnu ‘Arabi penting agar kaum muslimin dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Dari sini juga tampak perhatian para ulama dalam menjelaskan kesalahan dan penyimpangan dalam keyakinan serta pemikiran, tanpa harus memandang person tertentu secara berlebihan. Jika ada keserupaan nama, penyimpangan tetap harus dijelaskan dari orang yang bersangkutan agar tidak menyebar di tengah kaum muslimin.
Pemahaman dan keyakinan yang keliru
Di antara pemahaman yang keliru, bahkan sangat fatal, yang dinisbatkan kepada Ibnu ‘Arabi adalah keyakinan wihdatul wujud. Pemahaman ini disebut sebagai pemahaman ilhadiyah (kufur), yang muncul setelah dipenuhi keyakinan hulul, yaitu bersatunya makhluk dengan Tuhan pada sebagian makhluk, sehingga tidak ada keterpisahan di antara keduanya. Tentu ini adalah keyakinan yang kufur.
Di antara penggalan syair yang ditulis oleh Ibnu ‘Arabi adalah:
الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُ
Hamba adalah Rabb, dan Rabb merupakan hamba.
Aku bingung, siapa gerangan yang menjadi mukallaf.
عَقَدَ الْخَلَائِقُ فِيْ الْإلِه عَقَائِدَ وَأَنَا اعْتَقَدْتُ جَمِيْعَ اعْتَقَدُوهُ
Semua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan.
Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu. [1]
Ucapan seperti ini jelas merupakan penyimpangan dan kekufuran. Ketika menjelaskan pemahaman tersebut, Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah mengatakan:
وَقَدِ اتَّفَقَ سَلَفُ الأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا، عَلَى أَنَّ الخَالِقَ تَعَالَى بَائِنٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ: لَيْسَ فِي ذَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ، وَلَا فِي مَخْلُوْقَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ
“Dan sungguh, generasi Salaf umat ini beserta para imamnya telah bersepakat bahwa Al-Khaliq (Sang Pencipta) itu Maha Tinggi, terpisah dari makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada sedikit pun dari makhluk-Nya yang berada pada Zat-Nya, dan tidak ada sedikit pun dari Zat-Nya yang berada pada makhluk-makhluk-Nya.” [2]
Syekh ’Ali Hasan Al-Halabi rahimahullah ketika mengomentari penjelasan Imam Taqiyuddin di atas berkata, “Ini merupakan penafsiran yang tepat dan benar terhadap kata ‘ba’in’, yang mana sebagian (orang) kesulitan dalam menafsirkannya.” [3]
Klaim mimpi, Adam, dan ucapan tentang Firaun
Di antara pemahaman dan keyakinan yang keliru, Ibnu ‘Arabi juga mengklaim bahwa karya tulisnya—yang kemudian ia sebarkan—berdasarkan izin dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam melalui mimpi yang diklaim telah dialaminya. Padahal, sebagian besar isi bukunya bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah Ta’ala.
Ia juga meyakini bahwa Nabi Adam ’alaihissalam dinamakan insan (manusia) karena kedudukannya bagi Al-Haq (Allah) seperti insan al-’ain (pupil mata) bagi mata, yang dengannya penglihatan terjadi. Artinya, Nabi Adam merupakan bagian dari Allah Ta’ala. Kalimat seperti ini adalah kalimat kufur. Na’udzubillahi min dzalik.
Beliau juga berkata tentang kaum Nabi Nuh ’alaihissalam, “Sesungguhnya jika mereka meninggalkan penyembahan terhadap Wadd, Suwa’, Yaghuts, dan Ya’uq, niscaya mereka akan menjadi lebih bodoh tentang Allah Ta’ala.”
Syekhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah berkata, “Cukuplah bagimu sebagai bukti kekufuran mereka bahwa di antara ucapan mereka yang paling ringan adalah pernyataan bahwa Firaun mati dalam keadaan beriman dan bersih dari dosa-dosa. –Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi-. Dan Nabi Musa menjadi penyejuk mata (qurrata ‘ain) bagi Firaun dengan keimanan yang Allah berikan kepadanya ketika ia tenggelam. Maka Allah mencabut nyawanya dalam keadaan suci dan disucikan, tidak ada sedikit pun kotoran pada dirinya, sebelum dicatat atasnya suatu dosa pun, sedangkan Islam menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya.’ Padahal, telah diketahui secara mendasar/pasti (ma’lum bid dharurah) dalam ajaran agama-agama—baik kaum Muslimin, Yahudi, maupun Nasrani—bahwa Firaun adalah termasuk makhluk yang paling kafir.” [4]
Di antara sebab munculnya penyimpangan tersebut disebutkan oleh Adz-Dzahabi rahimahullah. Ibnu Rafi’ menukilkan kepadaku dengan tulisannya Abul Fath, beliau mengatakan, “Menurutku Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) tidak bermaksud sengaja berbohong, melainkan khalwat (menyendiri) dan rasa lapar (yang berlebihan) telah mempengaruhinya, sehingga menimbulkan kerusakan, halusinasi, dan sejenis kegilaan.” [5]
Sikap para ulama terhadap Ibnu ‘Arabi
Sikap para ulama terhadap Ibnu ‘Arabi terbagi menjadi beberapa bagian. Ada yang meyakini kewaliannya, di antaranya Asy-Syaikh Tajuddin bin ‘Athaillah (di antara ulama Maliki), Asy-Syaikh ‘Afifuddin Al-Yafi’i (di antara ulama Syafi’i), dan ulama lainnya. [6]
Namun, ada pula yang meyakini kesesatannya dan membantahnya secara terang-terangan. Di antaranya adalah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Badruddin bin Jama’ah (penulis kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim), Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Jamaluddin Al-Mizzi, dan para ulama lainnya rahimahullah.
Adz-Dzahabi rahimahullah sendiri dikenal sangat kritis dalam mengkritik penyimpangan-penyimpangan Ibnu ‘Arabi, terutama yang berkaitan dengan ketuhanan, namun beliau tetap menyampaikannya dengan penuh kehati-hatian:
وَقَوْلِي أَنَا فِيهِ: إِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ الَّذِينَ اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ إِلَى جَنَابِهِ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَخُتِمَ لَهُ بِالْحُسْنَى. فَأَمَّا كَلَامُهُ، فَمَنْ فَهِمَهُ وَعَرَفَهُ عَلَى قَوَاعِدِ الِاتِّحَادِيَّةِ وَعَلِمَ مَحَطَّ الْقَوْمِ، وَجَمَعَ بَيْنَ أَطْرَافِ عِبَارَاتِهِمْ — تَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ فِي خِلَافِ قَوْلِهِمْ
“Adapun pendapatku tentang dirinya (Ibnu ‘Arabi), bahwasanya boleh jadi (kemungkinan) dia termasuk di antara wali-wali Allah yang ditarik oleh Al-Haq (Allah) ke sisi-Nya saat menjelang ajal, dan ditutup usianya dengan kebaikan (husnul khatimah). Adapun perkataannya (karya Ibnu ‘Arabi), maka barangsiapa yang memahami dan mengetahuinya berdasarkan kaidah-kaidah paham ittihadiyah (paham penyatuan/wihdatul wujud), mengetahui muara pemikiran kelompok tersebut, serta mengumpulkan seluruh sudut ungkapan-ungkapan mereka, niscaya akan jelas baginya bahwa kebenaran itu berada pada posisi yang berseberangan dengan ucapan mereka.” [7]
Sebagian orang kurang tepat memahami ucapan Adz-Dzahabi rahimahullah pada kata:
اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ
“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)….”
Ada yang memahami bahwa Adz-Dzahabi meyakini Ibnu ‘Arabi termasuk wali majdzub, yaitu seseorang yang dikultuskan menjadi wali hingga akalnya ditarik oleh Allah sehingga menjadi gila, sebagaimana diyakini oleh kaum Sufi. Padahal, sikap Adz-Dzahabi di sini adalah sikap inshaf (pertengahan): beliau meyakini kesesatan pemikiran Ibnu ‘Arabi, tetapi tetap mengharapkan hidayah untuknya.
Maksud ucapan beliau “Ditarik oleh Al-Haq (Allah)” bukanlah ditarik akalnya sebagaimana keyakinan kaum Sufi. Yang dimaksud, Adz-Dzahabi berharap barangkali pada akhir hayatnya Allah menarik kesesatannya dari hati Ibnu ‘Arabi dan memberinya hidayah, sebagaimana wali-wali Allah lainnya, lalu menutup akhir hidupnya dengan husnul khatimah.
قُلْتُ: إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ
“Aku (Adz-Dzahabi) berkata, ‘Andaikata yang digelari dengan Muhyiddin (Ibnu ’Arabi) ingin rujuk (kembali) dari pendapat-pendapatnya sebelum mati, maka beruntunglah ia. Dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.’” [8]
Di akhir pembahasan tentang Ibnu ’Arabi dalam kitab Mizaanul ’Itidal, Adz-Dzahabi rahimahullah menutup dengan perkataannya:
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَعِيشَ الْمُسْلِمُ جَاهِلًا خَلْفَ الْبَقَرِ لَا يَعْرِفُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا سِوَى سُوَرٍ مِنَ الْقُرْآنِ يُصَلِّي بِهَا الصَّلَوَاتِ وَيُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ – خَيْرٌ لَهُ بِكَثِيرٍ مِنْ هَذَا الْعِرْفَانِ وَهَذِهِ الْحَقَائِقِ، وَلَوْ قَرَأَ مِائَةَ كِتَابٍ أَوْ عَمِلَ مِائَةَ خَلْوَةٍ
“Demi Allah, sungguh jika seorang muslim hidup dalam keadaan awam (tanpa pengetahuan rumit) di belakang penggembalaan sapi, tidak mengetahui ilmu apa pun selain beberapa surah Al-Qur’an yang ia gunakan untuk mendirikan salat, serta beriman kepada Allah dan hari akhir, itu jauh lebih baik baginya daripada sufisme/kearifan dan hakikat-hakikat ini, meskipun ia telah membaca seratus buku atau melakukan seratus kali khalwat (menyendiri untuk ibadah).” [9]
Inilah sikap seorang ulama yang mulia, Adz-Dzahabi rahimahullah. Berdasarkan hal ini, ulama setelahnya menyebut bahwa Adz-Dzahabi bersikap pertengahan terhadap Ibnu ‘Arabi. Di antara yang menyatakan demikian adalah As-Suyuthi rahimahullah dalam karyanya Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.
Pelajaran berharga dari Adz-Dzahabi rahimahullah adalah bahwa meskipun Ibnu ‘Arabi memiliki kesesatan dan penyimpangan, beliau tetap mengharapkan hidayah untuknya. Bahkan, setiap membahas tokoh-tokoh yang menyimpang dalam kitab-kitabnya, Adz-Dzahabi senantiasa menutup pembahasan dengan doa agar terhindar dari segala macam bentuk kesesatan. Wallahu a’lam.
Kesimpulannya, pembahasan ini menunjukkan pentingnya membedakan antara nama yang mirip dengan sosok yang berbeda, serta pentingnya sikap adil dalam menjelaskan penyimpangan akidah. Para ulama menjelaskan kesesatan secara tegas, namun tetap menjaga adab, kehati-hatian, dan harapan agar Allah memberi hidayah kepada siapa pun yang tersesat.
Poin penting
- Perbedaan Ibnul ‘Arabi dan Ibnu ‘Arabi
- Wihdatul wujud disebut ilhadiyah (kufur)
- Al-Khaliq terpisah dari makhluk-Nya
- Klaim mimpi dan izin Nabi ditolak
- Firaun disebut paling kafir
- Adz-Dzahabi bersikap pertengahan
FAQ
Apakah semua ulama memiliki sikap yang sama terhadap Ibnu ‘Arabi?
Tidak. Dalam sumber ini disebutkan ada ulama yang meyakini kewaliannya, dan ada juga yang menegaskan kesesatannya serta membantahnya.
Bagaimana sikap Adz-Dzahabi terhadap Ibnu ‘Arabi?
Adz-Dzahabi mengkritik penyimpangan-penyimpangan Ibnu ‘Arabi dengan sangat hati-hati, namun tetap berharap ada hidayah dan rujuk sebelum wafat.
Apa pelajaran utama dari pembahasan ini?
Pelajaran utamanya adalah membedakan yang haq dan yang bathil, serta menjelaskan kesalahan akidah tanpa memadamkan adab dan keadilan dalam menyikapi orang yang menyimpang.
Lihat juga
- Wakaf Saham Masjid Istiqlal dan Inovasi Wakaf Produktif
- Muhammadiyah Bangun Rumah Sakit Lapangan WHO di NTT
- Maulid Nabi dan Warisan Ilmu yang Terus Hidup
Sumber: Muslim.or.id — https://muslim.or.id/115889-antara-ibnul-arabi-dan-ibnu-arabi-2.html?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=antara-ibnul-arabi-dan-ibnu-arabi-2