TopikKajian Islam terpercaya, ramah, dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Islamkamil — Beragama dengan Cerdas dan Santun
Masukkan kode iklan bagian atas di sini.
Hero otomatis menampilkan tiga posting terbaru.
Daftar berita terkini diambil otomatis dari feed Blogger.

Resensi Buku RSI Jakarta 1971–2025 dan Sejarah Pelayanannya

Resensi Buku RSI Jakarta 1971–2025 dan Sejarah Pelayanannya

Ringkas: Buku Rumah Sakit Islam Jakarta 1971–2025: Transformasi Pelayanan Kesejahteraan Umat merekam perjalanan panjang RSIJ sejak akar gagasannya pada awal abad ke-20 hingga menjadi jejaring pelayanan kesehatan. Resensi ini menyoroti kekuatan dokumentasi buku, konteks sejarahnya, serta sejumlah catatan penyuntingan dan kelengkapan rujukan.

Buku Rumah Sakit Islam Jakarta 1971–2025: Transformasi Pelayanan Kesejahteraan Umat menegaskan bahwa rumah sakit tidak hanya dibangun dengan batu bata, alat medis, dan tenaga kesehatan. Dalam sejarah Muhammadiyah, rumah sakit juga lahir dari keyakinan bahwa agama harus hadir dalam tindakan nyata. Gagasan inilah yang menjadi ruh utama buku ini. Melalui buku tersebut, pembaca diajak melihat bahwa pelayanan kesehatan dalam tradisi Muhammadiyah tidak dipahami semata sebagai urusan medis, melainkan juga sebagai wujud kemanusiaan, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.

Akar sejarah RSIJ dan peran Muhammadiyah di Batavia

Meskipun judul buku memuat rentang tahun 1971–2025, kisah yang disajikan sebenarnya jauh lebih panjang. Pembaca dibawa mundur ke awal abad ke-20 untuk melihat pertumbuhan Muhammadiyah di Batavia dan tumbuhnya kesadaran umat Islam akan pentingnya pelayanan kesehatan yang mandiri, modern, dan terbuka bagi masyarakat luas.

Dalam bab pertama, penulis menjelaskan posisi Batavia sebagai salah satu pusat perkembangan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Pelabuhan Batavia menjadi pintu keluar masuk jemaah haji, ulama, pedagang, sekaligus berbagai gagasan pembaruan Islam. Di tengah suasana tersebut, Muhammadiyah Cabang Batavia resmi berdiri pada 9 Juli 1922. Berdasarkan arsip organisasi yang dipakai dalam buku ini, cabang itu memiliki 115 anggota pada tahun pertama dan berkembang menjadi 348 anggota pada 1923.

Setelah itu, pembahasan diarahkan pada perjuangan Muhammadiyah di bidang kesehatan. Semangat Penolong Kesengsaraan Oemoem atau PKO yang dirintis K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Soedja’ di Yogyakarta mulai menginspirasi cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai daerah. Di Betawi, keinginan mendirikan poliklinik dan rumah bagi masyarakat miskin sudah muncul dalam pemberitaan organisasi sejak 1926. Bagian ini penting karena memperlihatkan bahwa RSIJ tidak muncul dari ruang kosong, tetapi merupakan puncak dari gagasan yang telah tumbuh selama puluhan tahun.

Perintisan, peresmian, dan pertumbuhan RSIJ

Bab kedua membawa pembaca ke masa setelah kemerdekaan, ketika pemerintah Indonesia menghadapi keterbatasan fasilitas kesehatan, sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat. Dalam situasi itu, Muhammadiyah memperbarui jaringan PKO dan poliklinik agar dapat menjadi bagian dari pembangunan kesehatan nasional.

Gagasan mendirikan rumah sakit Islam di Jakarta mulai dikonsolidasikan sekitar 1961. Sejumlah dokter Universitas Indonesia dan tokoh Muhammadiyah, termasuk dr. Kusnadi, ikut merintis gagasan ini. Proses tersebut sempat terhambat oleh gejolak politik 1965, tetapi perjuangan dilanjutkan kembali setelah situasi politik mulai stabil.

Titik penting terjadi ketika yayasan rumah sakit dibentuk di bawah kepemimpinan Dr. Ali Akbar dengan dukungan dr. Kusnadi, A.R. Fachrudin, H.S. Prodjokusumo, pemerintah, dan masyarakat. Rumah Sakit Islam Jakarta akhirnya diresmikan pada 2 Juni 1971 di Cempaka Putih. Rumah sakit ini berdiri di atas lahan tujuh hektare dengan kapasitas awal 35 tempat tidur.

Pembangunannya didukung oleh dana masyarakat, bantuan Kementerian Kesehatan melalui program Pembangunan Lima Tahun, serta bantuan NOVIB dari Belanda. Dukungan ini menunjukkan bahwa sejak awal RSIJ lahir dari pertemuan kekuatan masyarakat sipil, organisasi keagamaan, pemerintah, dan lembaga internasional.

Bab ketiga menggambarkan masa pertumbuhan RSIJ sejak pertengahan 1970-an hingga 2000. Pada periode ini, RSIJ tidak lagi sekadar berupaya bertahan, tetapi mulai membuktikan diri sebagai salah satu pusat pelayanan kesehatan Islam yang diperhitungkan. Perkembangan itu tampak dari perluasan bangsal, peningkatan kapasitas layanan, kunjungan perwakilan sejumlah negara Muslim, berbagai kegiatan sosial, serta pendirian Akademi Keperawatan Jakarta pada 9 Juli 1983. RSIJ juga mulai membangun jejaring di luar Jakarta melalui pendirian Rumah Sakit Zam-Zam di Jatibarang, Indramayu, pada 1985.

Salah satu pembahasan menarik pada bagian ini adalah pencarian makna “rumah sakit Islam”. Identitas Islam tidak cukup diwujudkan melalui nama, simbol, atau bangunan. Nilai Islam juga harus hadir dalam mutu pelayanan, pengelolaan yang amanah, pembinaan rohani, profesionalisme tenaga kesehatan, dan keberpihakan kepada pasien.

Pada pertengahan 1990-an, RSIJ telah berkembang menjadi rumah sakit dengan ratusan tempat tidur, peralatan medis yang makin modern, layanan spesialis, program pendidikan tenaga kesehatan, dan sistem pembinaan karyawan. Pada fase ini juga muncul gagasan tentang rumah sakit Islam yang proaktif, yaitu rumah sakit yang tidak hanya menunggu orang sakit datang, tetapi juga ikut memberdayakan masyarakat dan mencegah timbulnya penyakit.

Dari satu rumah sakit menjadi jaringan pelayanan kesehatan

Bab keempat dan kelima menjelaskan perubahan RSIJ dari sebuah rumah sakit menjadi jaringan pelayanan kesehatan. Konsolidasi ini melahirkan RSIJ Grup yang menaungi dan mendampingi sejumlah rumah sakit, antara lain RSIJ Cempaka Putih, RSIJ Pondok Kopi, RSIJ Sukapura, Rumah Sakit Jiwa Islam Klender, Rumah Sakit Islam Zam-Zam Indramayu, Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung Selatan, PKU Muhammadiyah Maluku Utara, dan Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung.

Transformasi ini menjadi bagian yang paling relevan bagi pembaca masa kini. Buku tersebut memperlihatkan bahwa besarnya jaringan rumah sakit Muhammadiyah membutuhkan tata kelola yang terintegrasi, profesional, dan didukung teknologi. Model grup atau holding diharapkan dapat menyatukan pengelolaan sumber daya manusia, keuangan, teknologi, pengadaan alat kesehatan, dan standar pelayanan.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kekayaan dokumentasinya. Penulis menggunakan arsip organisasi sejak masa Hindia Belanda, majalah Suara Muhammadiyah, laporan tahunan, album foto, dan wawancara dengan sejumlah saksi serta pelaku sejarah. Foto-foto lama dalam buku ini bukan sekadar penghias halaman. Dokumentasi tersebut membantu pembaca melihat perubahan fisik rumah sakit, aktivitas pelayanan sosial, kunjungan tokoh, pendidikan tenaga kesehatan, hingga perkembangan jejaring RSIJ.

Dari sisi tampilan, tata letak buku terasa bersih dan modern. Perpaduan foto lama dan foto terbaru berhasil memperlihatkan perubahan institusi dari masa ke masa. Bagi keluarga besar RSIJ dan Muhammadiyah, dokumentasi visual ini tentu memiliki nilai emosional yang kuat.

Buku ini juga berhasil menempatkan sejarah RSIJ dalam konteks yang lebih luas. Perjalanan rumah sakit dikaitkan dengan perkembangan Muhammadiyah di Betawi, perubahan politik nasional, pembangunan pada masa Orde Baru, kebangkitan intelektual Islam, perkembangan teknologi kedokteran, hingga digitalisasi pelayanan kesehatan. Dengan demikian, RSIJ tidak digambarkan sebagai institusi yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari perubahan masyarakat Indonesia.

Kelebihan buku dan catatan yang masih perlu diperbaiki

Meski demikian, beberapa bagian buku ini masih memerlukan penyempurnaan. Pembahasan periode 1970-an hingga 1990-an disajikan cukup terperinci, sedangkan perjalanan 2000–2025 yang semestinya menjadi bagian penting sesuai judul justru terasa lebih singkat. Periode kontemporer lebih banyak dipaparkan melalui gambaran umum mengenai RSIJ Grup dan profil masing-masing rumah sakit. Penjelasan mengenai perubahan kepemimpinan, dampak BPJS Kesehatan, pengalaman menghadapi pandemi Covid-19, transformasi digital, dan perubahan pola pelayanan belum diuraikan secara mendalam.

Kekuatan sumber dalam buku ini juga belum merata. Bab-bab awal cukup sering menyertakan catatan kaki dan arsip pendukung. Sebaliknya, sejumlah data besar dalam bab-bab terakhir, seperti jumlah pasien, persentase kontribusi nasional, pangsa rumah sakit nirlaba, dan capaian digitalisasi, belum selalu dilengkapi rujukan yang jelas. Padahal, pencantuman sumber akan membuat klaim-klaim tersebut lebih kuat dan lebih mudah diverifikasi.

Aspek penyuntingan pun masih perlu mendapat perhatian. Terdapat paragraf yang berulang pada pembahasan RSIJ Pondok Kopi dan RSIJ Sukapura. Pada sejumlah halaman Bab III, kepala halaman masih tertulis sebagai Bab I. Istilah “RSIJ Grup” dan “RSIJ Group” juga dipakai secara bergantian.

Kesalahan kronologi yang paling mencolok muncul dalam kisah wafatnya Pak AR Fachrudin. Halaman 96 mencantumkan rangkaian peristiwa pada Maret 2023, padahal konteks cerita dan daftar dokumentasi di bagian akhir menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada 1995. Pada bagian lain, perkembangan rumah sakit Islam pada dekade 1970-an disebut sebagai terobosan pada penghujung abad ke-21, yang tampaknya seharusnya ditulis sebagai abad ke-20. Kekeliruan seperti ini perlu diperbaiki karena ketepatan waktu merupakan unsur penting dalam penulisan sejarah.

Narasi buku ini juga masih sangat kuat bernuansa perayaan kelembagaan. Hal itu dapat dipahami karena buku diterbitkan untuk merawat ingatan dan membangun kebanggaan institusi. Namun, sejarah akan terasa lebih utuh bila juga memberi ruang bagi pengalaman pasien, suara tenaga kesehatan di lapangan, konflik pengelolaan, kegagalan program, persoalan keuangan, serta perdebatan mengenai hubungan antara misi sosial dan tuntutan bisnis rumah sakit. Kasus penutupan sementara Rumah Sakit Zam-Zam sebenarnya dapat menjadi pintu masuk untuk menghadirkan refleksi yang lebih kritis.

Terlepas dari beberapa kekurangan tersebut, buku ini merupakan sumbangan penting bagi historiografi kesehatan Islam di Indonesia. Buku ini memperlihatkan bagaimana teologi Al-Ma’un diterjemahkan menjadi rumah sakit, sekolah tenaga kesehatan, pelayanan sosial, dan jaringan institusi modern. Islam dalam buku ini tidak berhenti sebagai kumpulan ajaran, tetapi bergerak menjadi sistem pelayanan yang menyentuh kebutuhan dasar manusia.

Buku ini layak dibaca oleh warga Muhammadiyah, pengelola amal usaha kesehatan, mahasiswa, peneliti sejarah, dan masyarakat umum yang ingin memahami peran organisasi keagamaan dalam pembangunan kesehatan Indonesia. Dengan penyuntingan yang lebih teliti, penguatan rujukan, dan pembahasan yang lebih kritis terhadap periode kontemporer, buku ini berpeluang menjadi salah satu rujukan utama mengenai sejarah pelayanan kesehatan Muhammadiyah.

Pada akhirnya, perjalanan RSIJ mengajarkan bahwa institusi besar tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh dari gagasan, pengorbanan, kepercayaan masyarakat, dan keberanian untuk terus berubah. Dari sebuah rumah sakit dengan 35 tempat tidur, RSIJ berkembang menjadi jejaring pelayanan kesehatan yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia. Di situlah arti penting buku ini: bukan hanya menyimpan masa lalu, tetapi juga mengingatkan generasi penerus bahwa sejarah terbaik adalah sejarah yang terus dilanjutkan melalui pelayanan kepada sesama.

Biodata Buku

Judul Buku: Rumah Sakit Islam Jakarta 1971–2025: Transformasi Pelayanan Kesejahteraan Umat
Penulis: Muhammad Ichsan Budi Prabowo
Tahun Terbit: 2026
Tebal: XVI + 101 Halaman
Ukuran: B5

Poin penting

  • RSIJ berakar dari semangat PKO Muhammadiyah
  • Muhammadiyah Cabang Batavia berdiri 9 Juli 1922
  • RSIJ diresmikan 2 Juni 1971 di Cempaka Putih
  • Kapasitas awal 35 tempat tidur di lahan tujuh hektare
  • RSIJ berkembang menjadi RSIJ Grup
  • Buku kuat dalam dokumentasi, tetapi masih perlu penyempurnaan

Sumber: https://ibtimes.id/resensi-buku-rumah-sakit-islam-jakarta-1971-2025-transformasi-pelayanan-kesejahteraan-umat/

Lihat juga