TopikKajian Islam terpercaya, ramah, dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Islamkamil — Beragama dengan Cerdas dan Santun
Masukkan kode iklan bagian atas di sini.
Hero otomatis menampilkan tiga posting terbaru.
Daftar berita terkini diambil otomatis dari feed Blogger.

Instructional Values Abdullah Saeed dan Istiqrā’ dalam Tafsir

Instructional Values Abdullah Saeed dan Istiqrā’ dalam Tafsir

Ringkas: Dalam gagasan hierarchy of values Abdullah Saeed, instructional values membahas ayat-ayat perintah, larangan, dan ketentuan yang harus dibaca bersama konteks pewahyuan. Saeed menilai universalitasnya perlu diuji melalui pola keseluruhan pesan Al-Qur’an, bukan dari satu teks saja.

Instructional Values Abdullah Saeed dan Istiqrā’ dalam Tafsir

Salah satu bagian penting dari gagasan hierarchy of values (hierarki nilai-nilai) Abdullah Saeed adalah instructional values (nilai-nilai instruksional). Kategori ini menarik karena berhadapan langsung dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi perintah (amr), larangan (nahy), anjuran, maupun ketentuan tertentu yang muncul sebagai respons atas persoalan konkret masyarakat saat wahyu diturunkan. Karena itu, persoalan utamanya bukan hanya isi perintah tersebut, tetapi apakah instruksi itu harus dipahami sebagai ketentuan universal atau sebagai respons yang terikat pada konteks pewahyuan tertentu.

Instructional Values: Antara Instruksi dan Konteks

Menurut Saeed (2006, p. 137), nilai-nilai instruksional adalah yang paling banyak muncul dalam Al-Qur’an dan hadir dalam bentuk yang beragam dan kompleks. Bentuknya bisa berupa kalimat perintah (amr), larangan (nahy), anjuran melakukan amal tertentu, perumpamaan (amthāl), kisah (qaṣaṣ), maupun ketentuan yang berkaitan dengan kasus-kasus partikular (Saeed, 2014, p. 68).

Contohnya dapat ditemukan pada ayat-ayat tentang poligami dalam QS. al-Nisā’ [4]: 3, kepemimpinan laki-laki dalam keluarga dalam QS. al-Nisā’ [4]: 34, relasi dengan kelompok agama lain dalam QS. al-Mā’idah [5]: 51, perbudakan, serta berbagai ketentuan sosial dan hukum lainnya.

Namun, masalah muncul ketika instruksi tersebut langsung dibaca sebagai norma yang berlaku untuk semua ruang dan waktu. Menurut Saeed, sebagian instruksi Al-Qur’an memang memiliki dimensi universal, tetapi sebagian lainnya merupakan jawaban atas kondisi sosial tertentu. Karena itu, bentuk instruksinya tidak selalu identik dengan nilai yang hendak dicapai.

QS. al-Nisā’ [4]: 34, misalnya, berbicara tentang laki-laki sebagai “qawwāmūn” (penanggung jawab) atas perempuan. Dalam tradisi tafsir klasik, al-Biqā‘ī (885/1480) (1984, p. 05: 269) memahami “qawwām” sebagai kepemimpinan yang mencakup pendidikan, pengajaran, perintah, dan larangan. Penjelasan itu juga dikaitkan dengan karakteristik tertentu yang dianggap menjadi kelebihan laki-laki. Namun, Saeed (2006, p. 138) tidak menjadikan konstruksi tersebut sebagai norma universal secara otomatis. Ia justru menghubungkannya dengan struktur keluarga dan masyarakat pada saat wahyu turun.

Dengan demikian, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apa yang diinstruksikan ayat, melainkan nilai apa yang hendak diwujudkan oleh instruksi itu, dan apakah bentuk sosialnya masih relevan dalam konteks yang berbeda. Di sinilah instructional values berbeda dari nilai-nilai yang bersifat fundamental (fundamental values). Instruksi tertentu dapat berubah bentuk karena konteksnya berubah, sedangkan nilai yang mendasarinya tetap dijaga.

Tiga Indikator Universalitas

Untuk menentukan apakah sebuah instructional values dapat berlaku secara universal, Saeed (2006, pp. 139–140, 2014, pp. 69–70) menawarkan tiga pertimbangan: frequency of occurrence, salience, dan relevance.

Frequency of occurrence berkaitan dengan seberapa sering suatu nilai muncul dalam Al-Qur’an. Identifikasi ini tidak cukup dilakukan dengan mencari satu kata tertentu, sebab sebuah nilai dapat diekspresikan melalui sejumlah istilah dan susunan bahasa.

Nilai membantu orang miskin, misalnya, hadir dalam berbagai bentuk: memberi makan orang miskin, membantu orang yang membutuhkan, menyantuni anak yatim, dan bentuk-bentuk kepedulian sosial lainnya. Karena itu, berbagai ayat tersebut perlu dikumpulkan agar tampak pola nilai yang lebih luas.

Salience menimbang signifikansi nilai itu sepanjang misi kenabian. Suatu nilai yang terus ditegaskan dalam berbagai fase pewahyuan, baik Makah maupun Madinah, memiliki kemungkinan lebih kuat untuk dipandang sebagai bagian penting dari pesan Al-Qur’an. Sebaliknya, instruksi yang muncul sekali dalam konteks yang sangat khusus — yakni parsial-kasuistik — tidak serta-merta memiliki bobot universal yang sama.

Sementara itu, relevance menuntut pembacaan atas hubungan antara instruksi Al-Qur’an dan konteks budaya masyarakat Ḥijāz. Unsur-unsur seperti struktur sosial, adat, kebiasaan, relasi kekuasaan, kondisi ekonomi, dan situasi politik masyarakat pewahyuan perlu dipahami sebelum menentukan jangkauan suatu instruksi. Setelah itu, barulah konteks tersebut dibandingkan dengan kondisi masyarakat kontemporer.

Karena itu, ketiga indikator tersebut menunjukkan bahwa universalitas sebuah instructional value tidak ditentukan secara deduktif dari satu teks, tetapi diperoleh melalui pembacaan atas keseluruhan data tekstual dan kontekstual.

Antara Frequency dan Istiqrā’

Pada titik ini, konstruksi Saeed tampak memiliki kedekatan metodologis dengan konsep istiqrā’ (induktif) dalam tradisi uṣūl al-fiqh. Secara sederhana, istiqrā’ adalah proses penelusuran sejumlah ayat-ayat partikular (juz’iyyāt) untuk memperoleh pemahaman tentang prinsip atau pola yang lebih umum (kullīyyāt) (al-Shāṭibī, 1997, p. 9).

Para ulama uṣūl al-fiqh sendiri beragam dalam menggunakan penalaran induktif semacam ini dalam pengembangan metodologis masing-masing (lihat misalnya: (al-Ghazālī, 1993, p. 21; al-Isnawī, 1999, p. 57)). Namun, secara umum, mereka memakai istiqrā’ antara lain untuk merumuskan kaidah, menemukan maqāṣid al-sharī‘ah, dan menentukan apakah suatu ketentuan dapat digeneralisasikan.

Dalam kerangka ini, seseorang tidak cukup berangkat dari satu ayat untuk menetapkan tujuan umum Al-Qur’an. Ia perlu mengumpulkan ayat-ayat yang relevan, membandingkan redaksi dan konteksnya, lalu melihat apakah ada pola yang konsisten. Proses seperti ini mirip dengan cara Saeed menentukan universalitas instructional values melalui indikator frequency dan salience.

Misalnya, prinsip kepedulian terhadap kelompok lemah tidak hanya ditemukan dalam satu ayat. Al-Qur’an berbicara tentang fakir miskin, anak yatim, orang yang membutuhkan, dan kelompok rentan semacamnya dalam banyak kesempatan. Jika berbagai pola partikular itu menunjukkan orientasi moral yang konsisten, maka dapat ditarik nilai yang lebih umum, yakni perlindungan dan pemberdayaan kelompok rentan. Artinya, instruksi partikular dapat menjadi jalan untuk menemukan prinsip yang lebih universal.

Dengan demikian, Saeed dapat dipahami melakukan pendekatan istiqrā’ terhadap nilai-nilai instruksional Al-Qur’an. Ia bergerak dari berbagai instruksi partikular menuju nilai yang lebih umum, lalu menguji nilai itu melalui frekuensi kemunculan, signifikansi dalam keseluruhan risalah, dan relevansinya dengan konteks budaya.

Dekat dengan Istiqrā’ Maqāṣidī

Hubungan itu menjadi semakin jelas jika dikaitkan dengan tradisi maqāṣid al-sharī‘ah. Dalam tradisi uṣūl al-fiqh, terutama pada pemikiran al-Shāṭibī (w. 790/1388), istiqrā’ memiliki kedudukan penting untuk menemukan atau menetapkan (ithbāt) tujuan-tujuan umum syariat. Maqāṣid tidak selalu dinyatakan secara eksplisit dalam satu teks, tetapi dapat diketahui melalui kumpulan dalil-dalil partikular yang menunjukkan arah dan tujuan yang sama (al-Qarḍāwī, 2008, p. 25; al-Shāṭibī, 1997, p. 02: 81).

Pola semacam ini juga terlihat dalam pemikiran Saeed (2006, pp. 140–141). Ia tidak hanya mencari instruksi atau ketentuan tertentu yang dinyatakan teks, tetapi berusaha menemukan nilai di balik aturan. Instruksi tentang larangan mencuri, misalnya, tidak berhenti pada tindakan dan sanksinya. Ia dapat dibaca lebih lanjut dalam kaitannya dengan nilai yang lebih fundamental, yaitu perlindungan terhadap harta (ḥifẓ al-māl). Demikian pula, ketentuan tertentu seperti persoalan relasi sosial dapat dibaca dalam horizon keadilan, perlindungan, martabat manusia, atau kemaslahatan.

Dengan begitu, instructional values dapat ditempatkan dalam gerak epistemologis penafsiran yang holistik dan kontekstual. Ia berangkat dari teks-teks partikular menuju pola nilai, dari pola nilai menuju prinsip yang lebih umum, lalu dari prinsip itu kembali menuju konteks baru. Gerak ini memperlihatkan karakter induktif sekaligus kontekstual dari pendekatan Saeed.

Tidak Sekadar Mengulang Istiqrā’ Klasik

Meski memiliki kemiripan dengan istiqrā’ dalam uṣūl al-fiqh, konstruksi Saeed tidak dapat disamakan begitu saja dengannya. Istiqrā’ klasik terutama dipakai untuk menemukan prinsip umum syariat dari sejumlah dalil dan terjebak dalam normativitas ethico-legal text — sebagaimana kaburnya batas antara tafsir dan fikih. Sementara itu, Saeed (2006, pp. 141–144) menambahkan elemen hierarchy of values serta dimensi historis-kontekstual yang lebih kuat.

Baginya, suatu instruksi harus dibaca bersama konteks sosial ketika ia diturunkan, lalu pada giliran berikutnya dibandingkan dan disesuaikan dengan konteks masyarakat modern.

Perbedaan ini penting. Dalam istiqrā’ klasik, generalisasi dapat menghasilkan prinsip normatif yang relatif stabil. Namun, Saeed justru ingin mengetahui tingkat universalitas dari prinsip tersebut. Sebuah nilai bisa saja sering muncul dalam Al-Qur’an, tetapi jika bentuk instruksinya sangat terikat oleh kondisi sosial-budaya tertentu, maka penerapannya tidak harus mempertahankan bentuk historisnya.

Karena itu, frequency, salience, dan relevance pada dasarnya berfungsi sebagai perangkat metodologis untuk menguji hasil induksi tersebut. Semakin kuat ketiga indikator itu, semakin besar kemungkinan sebuah instructional value bersifat universal. Sebaliknya, jika indikatornya lemah, nilai tersebut lebih mungkin bersifat kontekstual dan terbuka terhadap perubahan.

Istiqrā’ sebagai Jembatan Teks dan Konteks

Dengan perspektif ini, instructional values Saeed dapat dipahami sebagai upaya mempertemukan dua tradisi epistemologis: tradisi tafsir kontekstual modern dan tradisi istiqrā’ dalam uṣūl al-fiqh. Keduanya sama-sama tidak puas dengan pembacaan satu dalil secara terisolasi. Keduanya menuntut pengumpulan yang partikular untuk menemukan pola yang lebih umum.

Perbedaannya, sebagai bagian dari tradisi tafsir kontekstual, Saeed memperluas istiqrā’ dari sekadar penelusuran dalil menjadi penelusuran nilai, konteks, dan relevansi. Karena itu, pertanyaan yang diajukan bukan hanya apa hukum yang ditunjukkan ayat?, tetapi juga nilai apa yang berulang dalam berbagai ayat?, seberapa sentral nilai itu dalam keseluruhan risalah?, dan apakah nilai itu terkait dengan budaya tertentu atau memiliki jangkauan universal?

Pada akhirnya, instructional values menunjukkan bahwa universalitas Al-Qur’an, dalam perspektif Saeed, tidak selalu terletak pada bentuk-bentuk instruksi, melainkan dapat ditemukan pada nilai yang menjadi orientasi di balik instruksi tersebut. Di sinilah konsep istiqrā’ menjadi warisan epistemik yang relevan: berbagai ketentuan partikular dibaca secara kumulatif untuk menemukan prinsip umum, lalu diuji kembali melalui sejarah dan realitas kekinian. Dengan demikian, tafsir kontekstual tidak sekadar menyesuaikan Al-Qur’an dengan pergolakan zaman, tetapi juga berusaha menemukan struktur nilai yang membuat pesan Al-Qur’an terus berdialog dengan berbagai horizon zaman.

Kesimpulannya, pembacaan Saeed atas instructional values menegaskan bahwa yang perlu dicari bukan hanya bentuk lahiriah instruksi, melainkan nilai yang hendak diwujudkan oleh instruksi tersebut. Dari sana, tafsir dapat bergerak lebih hati-hati dalam membedakan mana yang universal dan mana yang terkait dengan konteks sosial tertentu.

Poin penting

  • hierarchy of values Abdullah Saeed
  • instructional values dalam Al-Qur’an
  • frequency of occurrence, salience, relevance
  • keterkaitan dengan istiqrā’
  • maqāṣid al-sharī‘ah dan nilai di balik aturan
  • pembacaan teks dan konteks secara holistik

FAQ

Apa itu instructional values menurut Abdullah Saeed?
Instructional values adalah nilai-nilai instruksional dalam Al-Qur’an yang muncul dalam bentuk perintah, larangan, anjuran, perumpamaan, kisah, dan ketentuan partikular.

Bagaimana Saeed menilai universalitas sebuah instruksi?
Ia menggunakan tiga pertimbangan: frequency of occurrence, salience, dan relevance.

Apa hubungan instructional values dengan istiqrā’?
Keduanya sama-sama menelusuri data partikular untuk menemukan prinsip yang lebih umum, meski Saeed menambahkan dimensi historis-kontekstual yang lebih kuat.

Sumber: https://tafsiralquran.id/antara-instructional-values-dan-istiqra-membaca-universalitas-pesan-al-quran-dalam-contextualist-approach-abdullah-saeed/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=antara-instructional-values-dan-istiqra-membaca-universalitas-pesan-al-quran-dalam-contextualist-approach-abdullah-saeed

Lihat juga