TopikKajian Islam terpercaya, ramah, dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Islamkamil — Beragama dengan Cerdas dan Santun
Masukkan kode iklan bagian atas di sini.
Hero otomatis menampilkan tiga posting terbaru.
Daftar berita terkini diambil otomatis dari feed Blogger.

Huruf أَنْ Wajib Tersembunyi: Lam Al-Juhud dan Hatta

Huruf أَنْ Wajib Tersembunyi: Lam Al-Juhud dan Hatta

Ringkas: Ibnu Hisyam menjelaskan keadaan ketika huruf أَنْ wajib di-idhmar-kan, khususnya setelah لَامُ الْجُحُودِ dan setelah حَتَّى jika fi’il setelahnya bermakna masa depan.

Pembahasan ini masuk pada keadaan ketiga dalam kaidah nahwu, yaitu kondisi ketika huruf أَنْ wajib disembunyikan. Meski tidak tampak dalam lafaz, keberadaan أَنْ tetap diperkirakan oleh kaidah, sehingga memengaruhi i’rab fi’il mudhari’ setelahnya.

Penjelasan Ibnu Hisyam tentang أَنْ yang Wajib Di-idhmar-kan

Ibnu Hisyam mengatakan,

قَوْلُهُ: وَنَحْوُهُ: ﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ﴾ [الْأَنْفَالِ: ٣٣] فَتُضْمَرُ لَا غَيْرُ

“Dan yang semisal dengannya adalah firman Allah, “Dan Allah sungguh tidak akan mengazab mereka” (QS. Al-Anfal: 33). Maka pada contoh seperti ini, huruf “أَنْ” di-idhmar-kan (disembunyikan), tidak ditampakkan.”

Penulis mulai menjelaskan keadaan ketiga, yaitu keadaan ketika huruf أَنْ wajib di-idhmar-kan atau disembunyikan. Huruf أَنْ wajib disembunyikan pada beberapa tempat, di antaranya setelah lam al-juhud dan setelah حَتَّى dengan syarat tertentu.

Pertama: Setelah Lam Al-Juhud (لَامُ الْجُحُودِ)

Lam al-juhud adalah huruf lam yang menunjukkan penafian dengan makna “tidak”. Lam ini didahului oleh fi’il madhi kana atau fi’il mudhari’ kana yang dinafikan dengan huruf ما atau huruf لم.

Contohnya:

مَا كَانَ الصَّدِيقُ لِيَخُونَ صَدِيقَهُ، لَمْ يَكُنِ الْغَنِيُّ لِيَطْغَى كِرَامَ النُّفُوسِ

“Tidaklah seorang sahabat pantas mengkhianati sahabatnya, dan tidaklah orang kaya yang berjiwa mulia akan berlaku sewenang-wenang.”

Pada kata ليخون terdapat huruf أَنْ yang wajib disembunyikan. Asalnya adalah لِأَنْ يَكُونَ. Demikian pula pada kata ليطغى terdapat huruf an yang disembunyikan. Asalnya adalah لِأَنْ يُطْغِي. Huruf lam pada kata ليخون dan ليطغى adalah lam al-juhud yang berfungsi sebagai taukid, yaitu penguat makna penafian.

Hal ini karena asal susunan kalimatnya adalah مَا كان يفعل, yaitu “ia tidak melakukan”. Kemudian huruf lam dimasukkan untuk memperkuat penafian tersebut. Karena itu, huruf ini dinamakan lam al-juhud, sebab selalu berkaitan dengan makna juhud, yakni penolakan atau penafian. Ini merupakan istilah dalam ilmu nahwu; sedangkan secara bahasa, juhud berarti pengingkaran.

Di antara contohnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ

(QS. Al-Anfal: 33)

Dan firman Allah Ta’ala:

لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ

(QS. An-Nisa: 137)

Pada kata لِيُعَذِّبَهُمْ, huruf lam di awal kata adalah lam al-juhud. Adapun kata يُعَذِّبَ merupakan fi’il mudhari’ yang manshub karena adanya أَنْ yang di-idhmar-kan secara wajib, sebab terletak setelah lam al-juhud. Asalnya adalah لِأَنْ يُعَذِّبَهُمْ.

Gabungan أَنْ + يُعَذِّبَهُمْ membentuk mashdar muawwal, yang ditakwil menjadi لِتَعْذِيبِهِمْ, yaitu “untuk mengazab mereka”. Huruf هـ pada kata tersebut berkedudukan sebagai maf’ul bih atau objek, sedangkan huruf ميم merupakan penanda jama’. Kalimat yang datang setelah أَنْ berfungsi sebagai silah, yaitu kalimat penyempurna bagi mashdar harfi أَنْ.

Adapun mashdar muawwal, yaitu gabungan antara an dan fi’il sesudahnya yang ditakwil menjadi mashdar, berkedudukan majrur karena didahului oleh huruf lam. Jar dan majrur tersebut berkaitan dengan khabar كان yang dibuang atau mahzuf.

Dengan demikian, bentuk takdir atau susunan yang diperkirakan dari ayat di atas adalah:

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُرِيدًا لِتَعْذِيبِهِمْ

“Dan Allah sekali-kali tidak berkehendak untuk mengazab mereka.”

Kedua: Setelah Hatta (حَتَّى)

Ibnu Hisyam menjelaskan kaidah berikut:

كَإِضْمَارِهَا بَعْدَ حَتَّى إِذَا كَانَ مُسْتَقْبَلًا

“Wajibnya menyembunyikan أَنْ (an) setelah huruf حَتَّى, apabila fi’il setelahnya menunjukkan makna masa yang akan datang.”

Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa huruf أَنْ tidak tampak dalam lafaz, tetapi keberadaannya diperkirakan menurut kaidah nahwu. Karena itu, fi’il mudhari’ sesudah حتى dibaca manshub karena adanya أَنْ yang di-idhmar-kan.

Struktur sebenarnya adalah:

حَتَّى أَنْ يَرْجِعَ

“hingga ia kembali”

Namun dalam penggunaan bahasa Arab, lafaz أَنْ dihilangkan sehingga yang tampak hanya:

حَتَّى يَرْجِعَ

Syarat Fi’il Mudhari’ Setelah Hatta

Ibnu Hisyam menjelaskan:

أَنْ يَكُونَ الْفِعْلُ مُسْتَقْبَلًا

“Syarat fi’il mudhari’ dinashabkan oleh “an” setelah hatta ialah fi’il tersebut menunjukkan makna masa yang akan datang.”

Ini menunjukkan bahwa tidak setiap fi’il mudhari’ setelah حتى otomatis menjadi manshub. Huruf tersebut menjadi amil nashab dan menyembunyikan huruf an hanya jika fi’il itu menunjukkan peristiwa yang belum terjadi atau masih diharapkan terjadi pada masa mendatang.

Sebaliknya, apabila fi’il tersebut menunjukkan keadaan yang sedang berlangsung atau telah terjadi, maka fi’il tersebut tidak dinashabkan oleh أَنْ yang di-idhmar-kan.

Contoh dalam kalimat:

لَا يُمْدَحُ الْوَلَدُ حَتَّى يَنَالَ رِضَا وَالِدَيْهِ

“Seorang anak tidak layak dipuji hingga ia memperoleh keridaan kedua orang tuanya.”

Pada contoh tersebut, kata يَنَالَ adalah fi’il mudhari’ yang menunjukkan kejadian yang akan datang. Karena itu, kata tersebut dibaca manshub karena adanya أَنْ yang disembunyikan setelah حتى.

Taqdir susunannya adalah:

حَتَّى أَنْ يَنَالَ

Sedangkan bentuk yang digunakan dalam bahasa Arab cukup:

حَتَّى يَنَالَ

Sebagai penguat kaidah ini, Ibnu Hisyam mengemukakan firman Allah Ta’ala:

لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى

“Kami akan terus tetap menyembahnya hingga Musa kembali kepada kami.” (QS. Taha: 91)

Kata يَرْجِعَ dibaca manshub karena didahului huruf حَتَّى yang di dalamnya diperkirakan terdapat أَنْ yang wajib di-idhmar-kan.

Huruf حَتَّى adalah huruf yang menunjukkan batas akhir atau ghayah, sekaligus berfungsi sebagai huruf jar. Adapun mashdar muawwal yang terbentuk dari أَنْ yang di-idhmar-kan beserta fi’il setelahnya berkedudukan sebagai isim yang majrur oleh حَتَّى.

Pada ayat di atas, bentuk:

حَتَّى أَنْ يَرْجِعَ

ditakwil menjadi mashdar:

حَتَّى رُجُوعِ مُوسَى

“hingga kembalinya Musa”

Dengan demikian, fi’il mudhari’ setelah حَتَّى pada hakikatnya berubah makna menjadi mashdar muawwal yang berkedudukan majrur karena didahului oleh huruf حَتَّى.

Berdasarkan penjelasan Ibnu Hisyam, dapat disimpulkan bahwa huruf أَنْ wajib di-idhmar-kan setelah حَتَّى apabila fi’il mudhari’ sesudahnya menunjukkan makna masa yang akan datang. Fi’il mudhari’ setelah حَتَّى menjadi manshub karena adanya أَنْ yang diperkirakan, bukan karena حَتَّى secara langsung. Gabungan أَنْ dan fi’il mudhari’ membentuk mashdar muawwal, dan mashdar muawwal tersebut berkedudukan majrur karena menjadi majrur oleh huruf حَتَّى. Dalam pembahasan ini, حَتَّى berfungsi sebagai huruf ghayah sekaligus huruf jar.

[Bersambung]

***

Penulis: Rafi Nugraha

Poin penting

  • أَنْ wajib di-idhmar-kan
  • Setelah لَامُ الْجُحُودِ
  • Setelah حَتَّى bermakna mustaqbal
  • Fi’il mudhari’ menjadi manshub
  • Mashdar muawwal berkedudukan majrur
  • حَتَّى sebagai ghayah dan huruf jar

Sumber: https://muslim.or.id/115947-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-35.html?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-35

Lihat juga