TopikKajian Islam terpercaya, ramah, dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Islamkamil — Beragama dengan Cerdas dan Santun
Masukkan kode iklan bagian atas di sini.
Hero otomatis menampilkan tiga posting terbaru.
Daftar berita terkini diambil otomatis dari feed Blogger.

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik: Tim, Tabayyun, dan Kejujuran

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik: Tim, Tabayyun, dan Kejujuran

Ringkas: Seorang pemimpin dituntut memberi kepercayaan kepada bawahannya, mengawasi secara proporsional, dan menjauhi kebohongan serta para penjilat. Nasihat Thahir dalam artikel ini menekankan husnuzan, tabayyun, keadilan, dan penjagaan amanah.

Dalam pembahasan ini, pemimpin diingatkan agar tidak mudah mencurigai orang yang bekerja untuknya, tetapi tetap melakukan pengawasan yang wajar. Ia juga perlu berhati-hati terhadap kebohongan, fitnah, dan orang-orang yang suka menjilat, karena semua itu merusak urusan kepemimpinan, baik di dunia maupun di akhirat.

Kepercayaan kepada tim dan larangan suuzan

Nasihat yang dibawakan Thahir menegaskan bahwa pemimpin tidak hanya kepada Allah ﷻ harus menaruh kepercayaan, tetapi juga kepada bawahannya dalam urusan yang telah diamanahkan kepadanya.

ولا تتهمن أحدا من الناس فيما توليه من عملك قبل أن تكشف أمره

“Janganlah engkau mencurigai siapapun yang bekerja untukmu terkait tugas yang telah engkau percayakan kepadanya, sebelum engkau memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengannya.”

Mencurigai orang yang tidak bersalah dan berprasangka buruk kepada mereka adalah dosa. Karena itu, pemimpin perlu menjadikan husnuzan kepada rekan kerja dan timnya sebagai bagian dari tugasnya. Suuzan harus ditinggalkan, karena hal itu justru dapat membantu meningkatkan kemampuan mereka jika diganti dengan sikap baik sangka.

Jangan pula membiarkan setan, musuh Allah, menemukan jalan masuk ke dalam urusan kepemimpinan. Kelemahan kecil saja sudah cukup baginya untuk memasukkan kesedihan ke dalam hati melalui prasangka buruk terhadap orang lain, lalu mengganggu ketenangan hidup.

واعلم أنك تجد بحسن الظن قوة وراحة وتكفى به ما أحببت كفايته من أمورك وتدعو به الناس إلى محبتك والاستقامة في الأمور كلها لك

“Ketahuilah bahwa berbaik sangka akan memberimu kekuatan dan ketenteraman. Dengan berhusnuzan, engkau akan terbantu dalam menangani berbagai urusan yang ingin engkau selesaikan. Dan dengannya pula, manusia akan terdorong untuk mencintaimu serta bersikap lurus dan baik dalam seluruh hubungan mereka denganmu.”

Nasihat ini sejalan dengan saran para ahli kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memberi kepercayaan kepada tim agar amanah dapat ditunaikan. Jika pemimpin tidak percaya kepada timnya, yang muncul justru micro-management, yaitu sikap terlalu mengatur urusan dan kreativitas tim dalam bekerja. Sikap ini pada akhirnya membuat hasil kerja tidak optimal.

Pengawasan yang proporsional dan memudahkan urusan

Meski harus percaya, pemimpin tetap perlu melakukan pengawasan yang seimbang. Wasiat Thahir berikut menjelaskan hal itu dengan sangat jelas:

“Jangan biarkan sikap baik sangkamu kepada orang-orang di sekitarmu dan rasa sayangmu kepada rakyatmu mencegahmu untuk bertanya dan memeriksa urusanmu. Menangani langsung masalah-masalah yang tak tertangani oleh para pejabatmu, melindungi rakyat, memperhatikan kebutuhan mereka, dan menanggung keperluan mereka, itu bagimu lebih mudah dari apa pun. Sesungguhnya hal itu lebih membantu penegakan agama dan lebih menghidupkan sunah Nabi.”

Prinsip yang dibawa Thahir adalah asas kepercayaan sekaligus asas memudahkan siapa pun. Jika ada anggota tim yang kesulitan dan kita mampu membantu, maka itu merupakan bentuk mengikuti sunah Nabi ﷺ.

مَن كانَ في حاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه بها كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَومِ القِيامَةِ

“Barangsiapa yang memenuhi hajat seorang saudaranya, Allah akan penuhi hajatnya. Barangsiapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Thahir kemudian melanjutkan wasiatnya dengan penekanan pada keikhlasan dan tanggung jawab pribadi:

“Ikhlaskanlah niatmu dalam semua ini. Berilah perhatian khusus untuk meningkatkan dirimu sebagai pribadi, yang menyadari bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, bahwa dia akan diberi pahala untuk perbuatan baiknya, dan akan dihukum karena perbuatan buruknya. Sesungguhnya Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung menjadikan agama sebagai perlindungan dan kekuatan. Dia mengangkat orang yang mengikuti dan memuliakan-Nya.”

Menjalankan pemerintahan dengan nilai Islam dan menjauhi bidah

Wasiat berikut menekankan agar pemerintahan dijalankan dengan jalan agama dan petunjuk, bukan dengan penyimpangan. Pemimpin diminta menegakkan hudud terhadap para penjahat sesuai tingkatannya dan sesuai apa yang layak bagi mereka. Hal ini tidak boleh diabaikan, tidak boleh diremehkan, dan tidak boleh ditunda. Jika hal ini gagal dijalankan, citra baik pemimpin akan rusak.

واعزم على أمرك في ذلك بالسنن المعروفة وجانب الشبه والبدعات يسلم لك دينك وتقم لك مروءتك

“Dalam hal ini, pastikan tindakanmu dipandu oleh sunah yang dikenal. Hindarilah bid’ah dan syubhat, sehingga agamamu selamat bagimu dan kehormatanmu tegak.”

Jika sudah membuat perjanjian, maka penuhilah. Jika sudah berjanji untuk berbuat baik, maka laksanakanlah. Terimalah kebaikan dan balaslah dengan kebaikan. Selain itu, tutuplah mata dari melihat aib yang mungkin dimiliki rakyat.

Jangan berbohong dan waspadai para pembohong

Nasihat berikut sangat penting: tahan lisan dari kebohongan dan ucapan palsu. Bencilah orang-orang yang suka memfitnah. Awal kegagalan urusan, baik di dunia maupun di akhirat, bisa terjadi ketika pemimpin memberi ruang kepada pembohong atau bahkan berani berbohong. Sebab, kebohongan adalah pangkal segala dosa, sedangkan fitnah dan adu domba adalah ujungnya. Fitnah tidak akan menyelamatkan pelakunya maupun orang yang mengucapkannya. Bahkan teman yang mendengarkannya pun tidak akan selamat. Karena itu, urusan orang yang suka memfitnah tidak akan berjalan baik.

Wasiat ini sangat relevan pada masa sekarang, ketika berita bohong mudah tersebar di masyarakat, terlebih jika sampai kepada para pemimpin. Maka seorang pemimpin harus berhati-hati agar tidak terjerumus dalam dua hal: pertama, menerima kabar bohong lalu bertindak berdasarinya; kedua, memproduksi kebohongan.

Seorang pemimpin perlu memiliki perangkat untuk tatsabbut dan tabayyun. Allah ﷻ berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Pelajari masalah prinsip ini pada artikel, “Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan”.

Sepanjang sejarah, para penjilat di sekitar penguasa sering mereproduksi kabar agar sesuai dengan hasrat si penjilat, sehingga kepentingannya terpenuhi. Hal seperti ini disebutkan pernah terjadi pada Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah rahimahumallah, yang menyebabkan mereka dihukum oleh para penguasa karena bisikan ulama suu’.

Di sisi lain, para penguasa juga rawan berbohong, di antaranya untuk menutupi realita yang sebenarnya tidak esensial, tetapi dianggap menciderai kesempurnaan kekuasaannya. Ini juga pernah terjadi pada raja-raja Mesir yang menutupi sejarah kepemimpinan seorang ratu, demi melegitimasi kepemimpinan berbasis darah kerajaan murni. Peristiwa semacam ini terjadi di berbagai rezim dan zaman.

Padahal, seorang pemimpin sejatinya tidak memerlukan kebohongan untuk melegitimasi kekuasaannya. Justru, ancaman bagi pemimpin yang berbohong sangat besar. Nabi ﷺ bersabda,

ثَلاثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمْ اللَّه يوْمَ الْقِيَامةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلا ينْظُرُ إلَيْهِمْ، ولَهُمْ عذَابٌ أليمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، ومَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِل مُسْتَكْبِرٌ

“Ada tiga golongan manusia yang mereka nanti tidak akan diajak bicara oleh Allah ﷻ di hari kiamat kelak. Allah tidak akan menyucikan mereka, dan Allah tidak akan melihat mereka dengan penglihatan rahmat dari Allah ﷻ. Dan bagi mereka azab yang pedih. Tiga golongan itu adalah: 1) seorang tua yang berzina; 2) raja atau penguasa pendusta; 3) keluarga miskin yang sombong.” (HR. Muslim)

Bukan hanya pemimpin, orang yang membantu pemimpin untuk berdusta dan berbuat curang juga mendapat ancaman besar. Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan zalim. Barangsiapa mendatangi mereka, kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, dan disahihkan Al-Albani)

Sebaliknya, dalam hadis ini dipahami bahwa orang yang tidak mendukung kezaliman dan kedustaan akan mendapatkan kesempatan untuk menyeruput air dari telaga Nabi ﷺ.

Cintailah kejujuran, orang jujur, dan sikap adil

Thahir juga berwasiat agar pemimpin mencintai orang-orang baik dan jujur, memuliakan orang mulia dengan benar, mengasihi orang-orang lemah, dan menyambung silaturahmi. Semua itu dilakukan dengan harapan dapat melihat wajah Allah Yang Mahatinggi dan memuliakan perintah-Nya, serta mencari pahala-Nya dan kampung akhirat.

Wasiat ini mengandung pesan agar bersikap adil dalam berbagai keadaan. Dalam pembahasan-pembahasan berikutnya, Thahir akan banyak mengulangi pentingnya keadilan. Ia juga selalu mengingatkan agar setiap amal dikerjakan dengan ikhlas, karena tidak ada manfaat dari amal berat sekalipun jika tidak dilandasi iman yang murni.

Pada akhirnya, kepemimpinan yang baik bukan hanya soal kemampuan mengatur, tetapi juga soal amanah, husnuzan, tabayyun, kejujuran, keadilan, dan keikhlasan. Inilah bekal penting agar pemimpin tidak terjerumus dalam micro-management, kebohongan, fitnah, dan kezhaliman, serta tetap berada di jalan agama dan sunah.

Poin penting

  • Kepercayaan kepada bawahan
  • Larangan suuzan
  • Pengawasan proporsional
  • Tabayyun dan tatsabbut
  • Larangan kebohongan dan fitnah
  • Menjauhi bid’ah dan syubhat

FAQ

Apa inti nasihat Thahir tentang kepemimpinan?
Intinya adalah memberi kepercayaan kepada tim, mengawasi secara wajar, menjaga kejujuran, dan menjalankan pemerintahan sesuai agama dan sunah.

Mengapa pemimpin harus tabayyun terhadap berita?
Karena Allah ﷻ memerintahkan agar berita dari orang fasik diperiksa terlebih dahulu, supaya tidak menimpa suatu kaum tanpa ilmu lalu menyesal.

Apa bahaya membantu pemimpin dalam kebohongan dan kezaliman?
Hadis yang disebutkan dalam sumber menyatakan bahwa orang yang membenarkan kebohongan dan membantu kezaliman penguasa mendapat ancaman besar dan tidak termasuk golongan Nabi ﷺ.

Lihat juga

Sumber: https://muslim.or.id/116190-bekal-menjadi-pemimpin-terbaik-3.html?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bekal-menjadi-pemimpin-terbaik-3