TopikKajian Islam terpercaya, ramah, dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Islamkamil — Beragama dengan Cerdas dan Santun
Masukkan kode iklan bagian atas di sini.
Hero otomatis menampilkan tiga posting terbaru.
Daftar berita terkini diambil otomatis dari feed Blogger.

Tasawuf Ekologis: Kesadaran Diri Merawat Alam

Tasawuf Ekologis: Kesadaran Diri Merawat Alam

Ringkas: Tulisan ini merefleksikan perjumpaan di Maarif Institute untuk menadarusi gagasan Buya Ahmad Syafii Maarif, terutama terkait ekologi, pendidikan, dan keadaban publik. Dari sana, penulis mengaitkan tasawuf ekologis dengan olah rasa, kesadaran diri, dan tanggung jawab manusia merawat lingkungan.

Setelah sekitar tiga tahun, bahkan mungkin lebih beberapa bulan, penulis akhirnya kembali berjumpa dan melingkar bersama teman-teman di Maarif Institute. Mereka adalah kawan-kawan dari berbagai daerah, mulai Sumatera hingga Papua, yang pernah saling bertukar pandang dan gagasan. Melalui Maarif Institute, perjumpaan itu menemukan landasan utamanya: mengaji dan mentadabburi gagasan-gagasan Buya Ahmad Syafii Maarif, sebagaimana nama lembaga tersebut.

Gagasan tentang egalitarianisme, kemanusiaan, dan inklusivitas menjadi penting untuk terus dikaji bersama sampai pada titik tungkunya. Dengan begitu, perapian gagasan itu tetap menghangatkan, memasak, sekaligus menanakkan bentuk praksisnya dalam kehidupan sosial.

Tadarus Pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif

Di tengah gegap gempita dan derasnya arus informasi, manusia hari ini pada akhirnya sekaligus dipermudah dan dipersulit. Kita mudah menerima informasi, tetapi kerap sulit membedakan mana kebenaran dan mana berita bohong. Bahkan, sering pula muncul penggiringan isu yang menutupi atau menyamarkan persoalan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari Malang, penulis berangkat ke Jakarta untuk ngaji bareng dan tadarus pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif. Perjalanan itu juga menjadi ruang silaturahmi dengan para santri Buya serta para penggerak sosial-keagamaan lainnya.

Perjumpaan tersebut berlangsung tanpa mengibarkan bendera apa pun yang melatari masing-masing peserta. Ia bukan sekadar memperingati Hari Buya Ahmad Syafii Maarif, sosok guru bangsa yang oleh Gus Mus disebut sebagai Wali. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang untuk mengaji bersama gagasan-gagasan Buya yang tetap relevan dalam menyikapi krisis dan perubahan sosial masa kini.

Dalam tadarus kali ini, isu ekologi, pendidikan, dan keadaban publik menjadi tiga pokok penting. Ketiganya menjadi afirmasi bahwa gagasan Buya tidak tercerabut dari akarnya. Gagasan itu tetap fundamental untuk meneropong perubahan sosial yang terjadi. Buya tidak hanya mengakumulasi sumber daya keagamaan, seperti kitab suci dan ragam tradisinya, tetapi juga menekankan moralitas serta aktualisasi nilai yang diukur kesesuaiannya.

Buya senantiasa menghadirkan pandangan dan pendekatan aksiologis yang tegas. Sikapnya tidak memihak secara sempit, tetapi peka terhadap kemanusiaan, rakyat kecil, dan tetap memilih menjadi sosok yang biasa-biasa saja serta sederhana.

Keadaban Berpikir dan Kesadaran Reflektif

Melalui ruang kajian bersama di Maarif Institute, penulis melihat keragaman gagasan, respons, bahkan sikap yang sangat heterogen dalam menyikapi perubahan sosial saat ini. Dalam konteks apa pun, bila meminjam istilah keadaban dari Buya, maka yang dibutuhkan bukan hanya keadaban publik, melainkan juga keadaban berpikir, keadaban dalam memihak, serta kepekaan yang tumbuh dari rasa kamanungsan.

Poin utamanya adalah kesadaran yang tumbuh secara reflektif dari proses kajian tersebut. Buya bukan sosok yang dikultuskan. Namun, melalui Buya, banyak orang belajar. Warisan pengetahuan itu masih terjaga dan dapat dikristalisasi ke dalam berbagai ruang sosial, jenjang, dan realitas yang dinamis.

Dari Buya dan mata rantai perjumpaan yang terus berjalan, kita belajar merawat perjumpaan melalui berbagai kolaborasi. Di dalamnya ada upaya dan penegasan posisi sebagai entry point untuk mendulang pengetahuan, lalu menyebarkannya sebagai kemaslahatan dan kebaikan yang tumbuh bersama.

Dari Tasawuf Algoritmis Menuju Tasawuf Ekologis

Penulis kemudian mengingat sebuah artikel menarik dari karibnya yang berjudul “Tasawuf Algoritmis”, ditulis oleh mas Busyro dari Pajaran. Dalam artikel itu ditegaskan bahwa apa yang kita pikirkan serupa dengan algoritma di media sosial, yang memengaruhi tawaran konten untuk dilihat, disukai, dan dibagikan.

Artinya, semakin sering seseorang melihat, memikirkan, bahkan mencari tema tertentu di media sosial, maka yang tampak di hadapannya adalah apa yang ia cari serta hal-hal yang mirip dengannya. Lalu, bagaimana jika pikiran itu diarahkan untuk mengingat dan membaca segala TandaNya? Maka respons yang muncul pun tidak akan jauh dari ingatan dan pembacaan atas tanda-tanda tersebut.

Kita kerap terjebak pada hardware: sesuatu yang tampak, perangkat keras, dan berbagai hiasan pernak-perniknya. Sementara itu, software sering dipersepsikan dari sisi mahalnya, pembaruannya, bahkan virus dan berbagai tetek bengeknya. Hal tersebut sebenarnya wajar. Virus dan rangkaian update pada software dapat diibaratkan sebagai internalisasi nilai pada manusia. Latar belakang dan akumulasi pengalaman empiris menjadi salah satu pengaruh dalam pembentukan pola pikir, cara berpikir, dan cara bersikap. Bijak atau tidaknya seseorang bergantung pada rangkaian internalisasi tersebut.

Dalam konteks tasawuf ekologis pun demikian. Lingkungan dapat dipahami sebagai saudara tertua manusia, sementara manusia adalah makhluk yang begitu fluktuatif. Tenggang rasa terhadap konservasi dan gerak lingkungan perlu disadari serta disandarkan pada Gusti. Meminjam istilah dari Mbah Nun, hal ini menisbatkan pada cinta segitiga: Tuhan, Manusia, dan Kanjeng Nabi. Turunannya adalah Alam Semesta, dan lebih mengerucut lagi pada kesalingan yang terbangun antara manusia dan lingkungan.

Olah Rasa, Mulat Sarira, dan Tanggung Jawab Lingkungan

Sayangnya, kerakusan manusia dan rasa “merasa” pintar kerap menjadi sebab kerusakan di muka bumi. Kita dapat melihatnya dalam persoalan tambang, penggarapan lahan produktif menjadi kawasan industri, perubahan lahan menjadi perumahan, serta berbagai bangunan yang mengambil alih fungsi dasar lingkungan.

Sampah, dampak industri, dan dampak ketidakpedulian menjadi bukti bahwa ayat Tuhan itu benar: manusia memang kerap membuat kerusakan di muka bumi ini. Walaupun tidak semua manusia melakukannya, kerusakan itu tetap terjadi. Kadar dan ukurannya memang berbeda-beda, tetapi kenyataannya tetap dapat disaksikan.

Karena itu, olah rasa, kesadaran, dan mulat sarira penting untuk terus ditumbuhkan. Kesadaran tersebut perlu berangkat dari dalam diri dan personal, bahkan jika memungkinkan harus menjadi kesadaran kolektif. Persoalannya sering kali muncul dari rasa merasa: merasa punya kesempatan, merasa punya kuasa, dan merasa punya umat.

Pada intinya, membangun tiga aspek tersebut sangat penting. Olah rasa adalah bagian dari refleksi yang mesti terus mengalir ke dalam diri dan sanubari. Kesadaran merupakan aspek yang secara natural sudah ada dan perlu diasah setiap saat. Sementara itu, introspeksi diri menuntut kita untuk lebih sering berkaca dan bercakap dengan diri sendiri.

Menjaga lingkungan bukan hanya soal alam. Ia juga berkaitan dengan lingkungan sosial, sebab manusia menyandang status sebagai jagad cilik. Sebagai mikro kosmos, manusia perlu mengurus alamnya sendiri agar tidak ditambang dan tidak dieksploitasi. Dengan begitu, cara berpikirnya dapat lebih terkendali dan tidak sempoyongan.

Dengan demikian, tasawuf ekologis mengajak manusia untuk tidak berhenti pada kesadaran spiritual yang personal, tetapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap alam, lingkungan sosial, dan diri sendiri. Dari olah rasa, kesadaran, dan mulat sarira, manusia belajar merawat kehidupan sebagai bagian dari kemaslahatan bersama.

Poin penting

  • Tadarus pemikiran Buya
  • Ekologi, pendidikan, keadaban publik
  • Keadaban berpikir
  • Tasawuf algoritmis
  • Olah rasa dan mulat sarira
  • Manusia sebagai jagad cilik

Sumber: https://ibtimes.id/tasawuf-ekologis-dan-kesadaran-diri/

Lihat juga