Doa Naik Kendaraan Darat dan Laut: Arab, Latin, Artinya
Doa naik kendaraan yang diajarkan Rasulullah ﷺ diawali dengan "Bismillah", lalu "Alhamdulillah", kemudian membaca Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun. Bacaan ini bersumber dari Al-Qur'an (QS. Az-Zukhruf: 13-14) dan dipraktikkan Nabi menurut hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Doa yang sama bisa dibaca saat naik motor, mobil, bus, kereta, pesawat, maupun kapal. Berikut bacaan Arab, latin, dan artinya, ditambah doa safar untuk perjalanan jauh, doa naik kendaraan laut, serta adab berkendara sesuai sunnah.

Dalil Doa Naik Kendaraan dalam Al-Qur'an
Perintah berdzikir ketika menaiki kendaraan disebut langsung oleh Allah dalam surat Az-Zukhruf. Setelah menyebut kapal dan hewan ternak sebagai tunggangan manusia (ayat 12), Allah berfirman:
لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
Artinya: "Agar kamu duduk di atas punggungnya, kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya, dan agar kamu mengucapkan, 'Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.'" (QS. Az-Zukhruf: 13-14). Teks lengkap ayat ini bisa Anda baca di Quran.com surat Az-Zukhruf ayat 12-14.
Ayat ini mengajarkan dua kesadaran sekaligus. Pertama, kendaraan adalah nikmat yang ditundukkan Allah, bukan semata hasil kecanggihan manusia. Kedua, setiap perjalanan di dunia mengingatkan kita pada perjalanan terakhir, yaitu kembali kepada Allah.
Bacaan Doa Naik Kendaraan Arab, Latin, dan Artinya
Lafaz lengkap doa naik kendaraan diriwayatkan dari Ali bin Rabi'ah. Ia menyaksikan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu ketika hendak menaiki tunggangan. Saat meletakkan kaki di pijakan, Ali mengucapkan "Bismillah". Setelah duduk, ia membaca bacaan berikut, lalu menyebut bahwa ia melihat Rasulullah ﷺ melakukan hal yang sama.
بِسْمِ اللَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
Bismillāh. Alḥamdulillāh. Subḥānal-ladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Alḥamdulillāh (3x). Allāhu akbar (3x). Subḥānaka innī ẓalamtu nafsī faghfir lī, fa innahū lā yaghfirudz-dzunūba illā anta.
Artinya: "Dengan nama Allah. Segala puji bagi Allah. Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Segala puji bagi Allah (3x). Allah Mahabesar (3x). Mahasuci Engkau, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau."
Sumber dan derajat: HR. Abu Dawud no. 2602 dan At-Tirmidzi no. 3446. At-Tirmidzi menilainya hasan shahih, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya. Teks hadis bisa dicek di Sunan Abu Dawud 2602 (Sunnah.com).
Di akhir riwayat, Ali tertawa. Ketika ditanya, ia menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ juga tertawa setelah membacanya, lalu bersabda bahwa Allah takjub (senang) kepada hamba-Nya yang berkata "ampunilah dosa-dosaku" karena ia tahu tidak ada yang mengampuni dosa selain Allah. Jadi, doa naik kendaraan bukan sekadar permohonan selamat, tetapi juga momen istighfar.
Urutan membacanya dalam praktik
- Ucapkan "Bismillah" ketika mulai naik atau masuk ke kendaraan.
- Setelah duduk dengan mantap, ucapkan "Alhamdulillah".
- Baca "Subhanalladzi sakhkhara lana hadza..." sampai "lamunqalibun".
- Ucapkan "Alhamdulillah" 3 kali dan "Allahu akbar" 3 kali.
- Tutup dengan "Subhanaka inni zhalamtu nafsi...".
Bagi pengemudi, bacalah setelah duduk dan sebelum kendaraan berjalan agar konsentrasi tidak terganggu.

Doa Safar untuk Perjalanan Jauh
Untuk perjalanan jauh, misalnya mudik, dinas luar kota, atau berangkat umrah, ada doa safar yang lebih panjang. Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ sudah duduk di atas untanya untuk bepergian, beliau bertakbir tiga kali lalu membaca:
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى. اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Subḥānal-ladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Allāhumma innā nas'aluka fī safarinā hādzal-birra wat-taqwā, wa minal-'amali mā tarḍā. Allāhumma hawwin 'alainā safaranā hādzā, waṭwi 'annā bu'dah. Allāhumma antaṣ-ṣāḥibu fis-safari wal-khalīfatu fil-ahl. Allāhumma innī a'ūdzu bika min wa'tsā'is-safari, wa ka'ābatil-manẓari, wa sū'il-munqalabi fil-māli wal-ahl.
Artinya: "Mahasuci Allah yang telah menundukkan ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan takwa, serta amal yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya. Ya Allah, Engkaulah pendamping dalam perjalanan dan pengganti (penjaga) bagi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang buruk pada harta dan keluarga."
Ketika pulang, beliau membaca doa yang sama dan menambahkan: Āyibūna tā'ibūna 'ābidūna li rabbinā ḥāmidūn (آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ), artinya "Kami kembali, bertobat, beribadah, dan memuji Tuhan kami."
Sumber dan derajat: HR. Muslim no. 1342 (shahih). Lihat Shahih Muslim 1342.
Doa Naik Kendaraan Laut (Kapal)
Untuk kapal laut, kapal feri, atau perahu, doa naik kendaraan dan doa safar di atas tetap berlaku, karena ayat Az-Zukhruf sendiri menyebut kapal sebagai salah satu tunggangan. Selain itu, banyak ulama menganjurkan membaca ucapan Nabi Nuh 'alaihissalam ketika mengajak kaumnya naik bahtera:
بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Bismillāhi majrēhā wa mursāhā, inna rabbī laghafūrur raḥīm.
Artinya: "Dengan nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Hud: 41)
Catatan penting: bacaan ini adalah ayat Al-Qur'an sehingga baik dibaca sebagai dzikir dan teladan dari Nabi Nuh. Namun riwayat yang menjanjikan keselamatan khusus dari tenggelam bagi pembacanya dinilai lemah oleh para ahli hadis, sehingga sebaiknya tidak diyakini sebagai jaminan.

Doa Lain yang Berkaitan dengan Perjalanan
1. Doa keluar rumah
بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Bismillāhi, tawakkaltu 'alallāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Artinya: "Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah." HR. Abu Dawud no. 5095 dan At-Tirmidzi no. 3426; At-Tirmidzi menilainya hasan, Al-Albani menshahihkannya.
2. Saat kendaraan tergelincir atau mogok
Seorang sahabat yang membonceng Nabi ﷺ pernah berkata "celakalah setan" ketika tunggangan mereka tergelincir. Nabi melarangnya dan memerintahkan untuk mengucapkan "Bismillah", karena dengan itu setan menjadi kecil. HR. Abu Dawud no. 4982, dishahihkan Al-Albani. Jadi, saat ban bocor atau mesin mogok, biasakan mengucapkan "Bismillah" alih-alih mengumpat.
3. Saat singgah di suatu tempat
Ketika berhenti di rest area, hotel, atau tempat singgah, bacalah A'ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq (أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ), "Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan." HR. Muslim no. 2708.
4. Takbir saat naik, tasbih saat turun
Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu berkata, "Kami apabila menaiki tanjakan bertakbir, dan apabila menuruni (jalan) bertasbih." HR. Al-Bukhari no. 2993. Sunnah ini bisa dipraktikkan saat pesawat lepas landas dan mendarat, atau ketika melewati jalan menanjak dan menurun.
Adab Berkendara Sesuai Sunnah
- Luruskan niat. Perjalanan untuk bekerja, belajar, atau silaturahmi bisa bernilai ibadah.
- Manfaatkan doa musafir. Rasulullah ﷺ menyebut doa orang yang sedang safar termasuk doa yang mustajab (HR. Abu Dawud no. 1536 dan At-Tirmidzi no. 1905; dinilai hasan oleh Al-Albani). Perbanyak doa untuk diri dan keluarga selama perjalanan.
- Jaga keselamatan. Doa tidak menggantikan ikhtiar. Pakai helm dan sabuk pengaman, patuhi rambu, dan jangan memakai HP saat menyetir.
- Jaga wudhu dan shalat. Musafir mendapat keringanan jamak dan qashar. Bila sempat, perbarui wudhu dan baca doa setelah wudhu sebelum melanjutkan perjalanan.
- Waspadai cuaca. Saat hujan deras di jalan, baca doa ketika turun hujan, dan saat angin kencang baca doa ketika angin kencang.
FAQ Seputar Doa Naik Kendaraan
Apakah doa naik motor berbeda dengan doa naik mobil?
Tidak. Tidak ada doa khusus untuk motor atau mobil. Hadis tentang doa naik kendaraan berbicara tentang hewan tunggangan, dan para ulama memberlakukannya untuk semua alat transportasi, termasuk motor, mobil, kereta, dan pesawat.
Apakah doa naik kendaraan harus dibaca setiap kali naik?
Dianjurkan setiap kali menaiki kendaraan, termasuk perjalanan dekat. Doa safar yang panjang lebih ditekankan untuk perjalanan jauh. Jika berganti kendaraan di tengah perjalanan, cukup membaca doa naik kendaraan yang pendek.
Bolehkah membaca doa naik kendaraan dalam hati?
Boleh. Dzikir sebaiknya diucapkan dengan lisan walau pelan, tetapi bila kondisi tidak memungkinkan, misalnya di kendaraan umum yang ramai, membaca dengan suara lirih sudah mencukupi.
Bagaimana jika lupa membaca doa saat naik kendaraan?
Bacalah ketika teringat selama masih dalam perjalanan. Tidak ada dosa karena lupa, dan dzikir kepada Allah tetap baik kapan pun diucapkan.
Kesimpulan
Doa naik kendaraan bersumber dari QS. Az-Zukhruf: 13-14 dan hadis shahih riwayat Abu Dawud no. 2602, dengan urutan Bismillah, Alhamdulillah, Subhanalladzi sakhkhara lana hadza, tahmid dan takbir masing-masing tiga kali, lalu istighfar. Untuk perjalanan jauh, lengkapi dengan doa safar dari Shahih Muslim no. 1342, dan untuk kapal laut boleh menambahkan bacaan QS. Hud: 41. Hafalkan bertahap, amalkan setiap kali berkendara, dan iringi dengan ikhtiar menjaga keselamatan. Wallahu a'lam.