TopikKajian Islam terpercaya, ramah, dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Islamkamil — Beragama dengan Cerdas dan Santun
Masukkan kode iklan bagian atas di sini.
Hero otomatis menampilkan tiga posting terbaru.
Daftar berita terkini diambil otomatis dari feed Blogger.

Manhaj Ahlus Sunnah: Mengikuti Rasul dan Menjauhi Bid’ah

Manhaj Ahlus Sunnah: Mengikuti Rasul dan Menjauhi Bid’ah

Ringkas: Salah satu prinsip manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah beriman dan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti sunah beliau, serta meninggalkan perkara-perkara baru dalam agama.

Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan prinsip yang membentuk keyakinan, ibadah, akhlak, dan perjalanan hidup seorang Muslim. Kecintaan kepada beliau diwujudkan dengan menerima ajarannya, meneladani petunjuknya, dan mendahulukan tuntunan beliau daripada keinginan pribadi. Pada saat yang sama, seorang Muslim perlu berhati-hati agar tidak mengada-adakan bentuk keyakinan atau ibadah yang tidak memiliki tuntunan.

Beriman dan mencintai Rasulullah

Di antara prinsip manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keimanan ini mencakup pembenaran terhadap kerasulan beliau dan penerimaan terhadap ajaran yang beliau sampaikan. Seorang Muslim tidak cukup hanya mengenal nama dan sejarah beliau, tetapi juga perlu menjadikan risalahnya sebagai pedoman dalam beragama.

Kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga harus melebihi kecintaan seseorang kepada dirinya sendiri, kedua orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia. Kedudukan cinta ini sangat tinggi karena melalui beliau manusia mengenal petunjuk Allah, memahami tata cara ibadah, serta memperoleh teladan dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim.

Namun, cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya diukur melalui perasaan atau ungkapan. Cinta yang benar melahirkan ketaatan dan kesediaan untuk mengikuti beliau. Karena itu, seorang Muslim hendaknya mempelajari sunah agar mengetahui ibadah, akhlak, dan kebiasaan yang benar-benar diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ittiba’ sebagai bukti kecintaan

Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut sebagai ittiba’. Maksudnya adalah menempuh petunjuk dan sunah beliau dalam menjalankan agama. Ittiba’ menuntut seorang Muslim untuk tidak hanya memperhatikan tujuan suatu ibadah, tetapi juga tata cara pelaksanaannya. Niat yang baik perlu disertai cara yang benar sesuai tuntunan.

Prinsip ittiba’ berlaku dalam berbagai bagian agama. Dalam akidah, seorang Muslim menerima keterangan yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam ibadah, ia berusaha mencontoh tata cara yang beliau ajarkan. Dalam akhlak, ia meneladani sikap dan bimbingan beliau. Dengan demikian, mengikuti Rasul bukanlah bagian kecil dari kehidupan, melainkan dasar dalam memahami dan mengamalkan Islam.

Sikap ini juga mengajarkan kerendahan hati. Seorang Muslim tidak menjadikan selera pribadi, kebiasaan masyarakat, atau semangat semata sebagai ukuran kebenaran agama. Kebiasaan dapat dihormati selama tidak bertentangan dengan tuntunan, tetapi ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menjadi pedoman utama dalam perkara agama.

Memahami kewajiban meninggalkan bid’ah

Prinsip berikutnya adalah meninggalkan bid’ah, yaitu perkara-perkara baru dalam agama. Dalam konteks kajian ini, bid’ah berkaitan dengan sesuatu yang dimasukkan ke dalam agama dan diperlakukan sebagai bagian dari keyakinan atau ibadah. Karena itu, pembahasan bid’ah tidak semestinya dilakukan secara serampangan tanpa memahami perkara yang sedang dinilai.

Kehati-hatian terhadap bid’ah bertujuan menjaga kemurnian ajaran dan tata cara beragama. Agama tidak dibangun hanya berdasarkan anggapan bahwa suatu amalan terasa baik. Seorang Muslim juga perlu memeriksa apakah amalan tersebut memiliki tuntunan dan apakah pelaksanaannya sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada saat yang sama, prinsip ini hendaknya dipelajari dengan ilmu dan akhlak. Istilah bid’ah tidak sepatutnya dijadikan bahan celaan atau alat untuk tergesa-gesa menghakimi pribadi Muslim lain. Ketika menghadapi persoalan yang belum dipahami, langkah yang lebih selamat adalah mempelajari penjelasan secara utuh dan bertanya kepada orang berilmu.

Menerapkan manhaj ini dalam kehidupan

Penerapannya dapat dimulai dengan membangun kebiasaan belajar. Seorang Muslim perlu mengenal sunah yang berkaitan dengan ibadah harian, hubungan keluarga, muamalah, serta pembentukan akhlak. Ilmu membantu seseorang membedakan antara tuntunan agama, kebiasaan yang dibolehkan, dan perkara yang perlu ditinggalkan.

Selain belajar, diperlukan kesungguhan untuk mengamalkan pengetahuan secara bertahap. Mengikuti sunah bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Semakin seseorang memahami petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seharusnya semakin baik pula adabnya, semakin rendah hatinya, dan semakin berhati-hati ketika berbicara tentang agama.

Kesimpulannya, beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai beliau, mengikuti sunah, dan meninggalkan bid’ah merupakan rangkaian prinsip yang saling berkaitan. Cinta dibuktikan dengan ittiba’, sedangkan ittiba’ mengharuskan seorang Muslim menjaga agama dari perkara yang tidak memiliki tuntunan. Semua itu perlu dijalankan berdasarkan ilmu, ketulusan, dan akhlak yang baik.

Poin penting

  • Beriman kepada Rasulullah
  • Mencintai beliau melebihi manusia lainnya
  • Ittiba’ kepada sunah
  • Menjaga kemurnian ibadah
  • Meninggalkan perkara baru dalam agama
  • Belajar dengan ilmu dan akhlak

Sumber: Muslim.or.id

Lihat juga

Sumber: Muslim.or.id — https://muslim.or.id/115699-prinsip-prinsip-manhaj-ahlus-sunnah-4.html?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=prinsip-prinsip-manhaj-ahlus-sunnah-4