TopikKajian Islam terpercaya, ramah, dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Islamkamil — Beragama dengan Cerdas dan Santun
Masukkan kode iklan bagian atas di sini.
Hero otomatis menampilkan tiga posting terbaru.
Daftar berita terkini diambil otomatis dari feed Blogger.

Kritik Maqāṣidī atas Elite dan Derita Wong Alit

Kritik Maqāṣidī atas Elite dan Derita Wong Alit

Ringkas: Kajian maqāṣidī mengajak umat melihat kebijakan sosial dan kepemimpinan bukan hanya dari aturan formal, tetapi juga dari dampaknya terhadap keselamatan, martabat, dan kesejahteraan masyarakat. Kritik terhadap elite yang mengabaikan wong alit perlu dibaca sebagai ajakan memperjuangkan kemaslahatan secara bertanggung jawab.

Persoalan sosial yang digambarkan melalui istilah “negeri Konoha” bukan sekadar bahan sindiran. Ia menjadi cermin untuk membaca keadaan ketika layanan publik melemah, masyarakat kecil menanggung beban hidup, dan kelompok elite justru tampak jauh dari penderitaan rakyat. Dalam sudut pandang Islam, realitas seperti ini layak dikaji dengan pendekatan maqāṣidī, yaitu cara memahami tujuan besar syariat dalam menjaga kemaslahatan manusia.

Tulisan ini terinspirasi dari kitab berbahasa Arab berjudul Mujtama‘ Kasīḥ wa Nukhbah Mutawaḥḥisyah—“Masyarakat yang Lumpuh dan Elite yang Buas”—karya Prof. Dr. Samir Abdulrahman al-Syamiri, Guru Besar Sosiologi Universitas Aden. Pengalaman sosial Yaman yang menghadapi krisis, perang, serta keruntuhan layanan publik menjadi latar yang kuat untuk merenungkan hubungan antara masyarakat, kekuasaan, dan tanggung jawab elite.

Maqāṣidī: Membaca Masalah Sosial dari Tujuan Syariat

Pendekatan maqāṣidī tidak berhenti pada pertanyaan apakah sebuah tindakan tampak sah secara prosedural. Pendekatan ini juga menilai apakah tindakan tersebut benar-benar menghadirkan kemaslahatan atau justru menambah kerusakan dalam kehidupan bersama. Karena itu, kebijakan, keputusan ekonomi, dan arah pelayanan publik patut diuji melalui dampaknya bagi rakyat, terutama mereka yang paling lemah.

Dalam kehidupan sehari-hari, wong alit sering menjadi pihak yang paling cepat merasakan akibat dari harga kebutuhan yang meningkat, akses kesehatan yang sulit, pendidikan yang mahal, pekerjaan yang tidak pasti, atau layanan dasar yang tidak berjalan baik. Ketika persoalan ini dibiarkan, masyarakat dapat kehilangan rasa aman dan kepercayaan. Kelumpuhan sosial bukan hanya terlihat pada lembaga yang tidak bekerja, tetapi juga pada hilangnya kepedulian terhadap sesama.

Bahasa “elite yang mencekik” tentu merupakan kritik sosial yang keras. Namun, inti pesannya dapat dipahami sebagai peringatan bahwa kekuasaan, jabatan, pengaruh, dan akses ekonomi tidak boleh dipakai untuk memperlebar kesenjangan. Orang yang memiliki kewenangan semestinya memandang amanah sebagai tanggung jawab untuk melayani, bukan kesempatan untuk mengambil keuntungan di tengah kesulitan masyarakat.

Ketika Layanan Publik Melemah, Rakyat Menanggung Beban

Krisis sosial sering kali tidak datang dalam satu bentuk. Ia dapat muncul melalui layanan publik yang tidak memadai, tata kelola yang lemah, ketidakadilan akses, hingga keputusan yang tidak mendengar suara masyarakat. Dalam keadaan demikian, keluarga kecil, pekerja harian, petani, pedagang, dan kelompok rentan biasanya menjadi pihak yang paling berat menanggung akibatnya. Mereka memiliki pilihan yang lebih terbatas untuk bertahan saat keadaan memburuk.

Sudut pandang maqāṣidī mengajarkan pentingnya melihat manusia secara utuh. Masyarakat bukan angka statistik dan bukan sekadar objek kebijakan. Mereka adalah pihak yang memiliki kebutuhan, kehormatan, keluarga, masa depan, serta hak untuk hidup dalam keadaan yang layak. Karena itu, ukuran keberhasilan kepemimpinan tidak cukup dibangun dari slogan atau pencitraan, melainkan dari sejauh mana kesulitan rakyat benar-benar berkurang.

Kajian sosial seperti ini juga mengingatkan bahwa kerusakan tidak selalu disebabkan oleh satu orang atau satu lembaga. Ada kemungkinan masalah tumbuh karena budaya diam, sikap acuh, pembiaran terhadap ketidakadilan, atau kebiasaan menganggap penderitaan orang lain sebagai urusan pribadi. Di sinilah akhlak sosial menjadi penting: setiap orang perlu menjaga kepedulian, kejujuran, dan keberanian menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.

Peran Elite dan Tanggung Jawab Akhlak Sosial

Elite dalam masyarakat dapat mencakup siapa saja yang mempunyai pengaruh besar, baik di bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, media, maupun keagamaan. Pengaruh tersebut membawa tanggung jawab yang besar pula. Semakin luas kewenangan seseorang, semakin besar dampak keputusan dan sikapnya bagi orang lain. Karena itu, kepekaan terhadap kondisi wong alit bukan tambahan yang bersifat pilihan, melainkan bagian penting dari kepemimpinan yang beradab.

Bagi masyarakat Muslim, kritik sosial hendaknya tidak berubah menjadi kebencian yang membutakan. Kritik diperlukan untuk menjaga akal sehat, menolak pembiaran, dan mendorong perbaikan. Namun, kritik juga perlu disampaikan dengan data, adab, serta orientasi kemaslahatan. Tujuannya bukan sekadar mempermalukan pihak tertentu, melainkan mengingatkan bahwa kehidupan sosial akan rusak apabila yang kuat tidak lagi merasa bertanggung jawab kepada yang lemah.

Membawa Semangat Maqāṣid ke Kehidupan Sehari-hari

Semangat maqāṣidī dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Keluarga dapat membiasakan sikap tidak berlebihan dan peduli kepada tetangga yang kesulitan. Komunitas dapat menguatkan gotong royong, membantu akses pendidikan, mendukung usaha kecil, atau memperhatikan warga yang sakit dan membutuhkan bantuan. Sementara itu, orang yang memiliki posisi kepemimpinan di mana pun perlu membangun kebiasaan mendengar keluhan, membuka ruang musyawarah, dan mengutamakan kepentingan bersama.

Pada akhirnya, kritik atas masyarakat yang lumpuh dan elite yang mencekik wong alit adalah panggilan untuk membangun kepekaan. Kemaslahatan tidak akan lahir dari sikap masa bodoh, sedangkan keadilan tidak akan tumbuh bila suara masyarakat kecil selalu dikesampingkan. Kajian ini mengajak pembaca untuk menilai keadaan sosial secara lebih jernih, menjaga akhlak dalam menyampaikan kritik, serta mengambil bagian dalam perbaikan sesuai kemampuan masing-masing.

Poin penting

  • Maqāṣidī berorientasi pada kemaslahatan
  • Wong alit menanggung dampak krisis
  • Elite memikul amanah sosial
  • Layanan publik harus melindungi rakyat
  • Kritik perlu disampaikan beradab
  • Kepedulian dimulai dari lingkungan terdekat

Sumber: Islam Santun

Lihat juga